Menari di Atas Genderang Orang: Mengapa Indonesia Belum Menguasai Teknologi Masa Depan?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini menggambarkan ketergantungan Indonesia pada teknologi asing dalam tiga sektor kunci: e-commerce, hilirisasi nikel, dan kecerdasan buatan (AI). Meski memiliki pasar besar dan sumber daya alam melimpah, Indonesia umumnya hanya berperan sebagai pasar, pemasok bahan baku, atau operator, sementara teknologi inti, hak kekayaan intelektual, dan kendali industri tetap berada di tangan pihak lain. Contoh nyata meliputi akuisisi mayoritas saham Tokopedia oleh ByteDance, penurunan saham GoTo hingga delisting oleh MSCI, dan penutupan layanan penjualan fisik Bukalapak. Dalam hilirisasi nikel, meski larangan ekspor bijih nikel berhasil meningkatkan produksi olahan hingga 60 persen dunia, teknologi peleburan dan baterai tetap didominasi oleh Cina, Korea Selatan, dan Jepang, dengan 68 persen investasi asing berasal dari Cina. Sementara itu, inisiatif AI seperti Sahabat-AI masih bergantung pada model asing seperti Llama dan Gemma, sehingga kedaulatannya terbatas pada dukungan bahasa dan lokasi data, bukan pada pengembangan teknologi inti.
Bagikan
Berita terkait
Airlangga Bongkar PR Besar Industri Indonesia Hadapi Perubahan Ekonomi Global
Warta Ekonomi · 21 Agustus 2026 pukul 13.30
Alibaba Panen Cuan Sampai US$40 Miliar, AI Jadi Mesin Uang Baru!
Warta Ekonomi · 20 Agustus 2026 pukul 19.30
Robot Ini Bisa Bersih-bersih Rumah, Tarifnya Rp535 Ribu/Jam
CNN Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 11.15
Tambah Penerimaan Negara, Purbaya Lirik Pajak Perhiasan dan E-Commerce
Liputan6.com · 18 Agustus 2026 pukul 20.00