PDI-P Tanpa Jokowi vs PSI dengan Jokowi, Dede Sebut 2029 Jadi Pertaruhan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pemilu 2029 akan menjadi ujian baru bagi kekuatan partai politik yang selama ini tumbuh beriringan dengan figur calon presiden. Dede Budhyarto menyatakan bahwa konfigurasi yang menarik adalah PDI-P yang tidak lagi bersama Joko Widodo, sementara PSI bergerak dengan membawa nama mantan Presiden tersebut. Menurutnya, kenaikan suara partai tidak terjadi secara tiba-tiba atau karena teori konspirasi, melainkan ada efek coattail dari figur calon presiden yang dipilih rakyat.
Dede membandingkan perjalanan Partai Demokrat pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan PDI-P ketika Jokowi menjadi calon presiden. Pada Pemilu 2004, Demokrat memperoleh 7,45 persen suara, lalu melonjak menjadi 20,85 persen pada Pemilu 2009 saat SBY memenangkan pemilihan presiden. Setelah SBY tidak lagi maju, suara Demokrat turun menjadi 10,19 persen pada Pemilu 2014.
Pola serupa terlihat pada PDI-P. Pada Pemilu 2014, PDI-P memperoleh 18,95 persen suara, lalu naik menjadi 19,33 persen pada Pemilu 2019 ketika Jokowi kembali maju. Namun, pada Pemilu 2024, suara PDI-P turun menjadi 16,72 persen saat Jokowi tidak lagi maju dan PDI-P mengusung Ganjar Pranowo. Dede menempatkan PDI-P dan PSI sebagai dua contoh berbeda untuk menguji apakah kekuatan figur presiden masih berkaitan dengan performa partai pada 2029.
Bagikan
Berita terkait
Kaesang Maju Caleg Pemilu 2029, Jokowi Bicara Hitungan Politik
Liputan6.com · 12 Agustus 2026 pukul 14.02
PSI Usul PT di Bawah 4%, Ternyata Bukan Karena Takut Tak Lolos, tapi...
Warta Ekonomi · 18 September 2026 pukul 10.25
Ahmad Ali Ketuhar PSI: Akan Ada Gelombang Besar...
Warta Ekonomi · 17 September 2026 pukul 18.10
Pengacara Kondang Bersumpah Akan Bela Gibran, Jokowi hingga PSI: Saya Dapat Restu Almarhumah Ibu...
Warta Ekonomi · 14 September 2026 pukul 02.00