Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pembiayaan Hijau Meningkat, Bagaimana Dampaknya?

Industri perbankan Indonesia mencetak kinerja kredit hijau yang positif dengan ekspansi pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian strategi bisnis. Namun, Komisaris Independen BRI Lukmanul Khakim menekankan pentingnya memastikan dampak lingkungan nyata untuk menghindari greenwashing atau pencitraan ramah lingkungan yang tidak akuntabel. Data GSIA menunjukkan aset investasi berkelanjutan global mencapai sekitar US$3,9 triliun hingga akhir 2025, naik lebih dari 600% dalam delapan tahun, sementara di AS aset ESG mencapai US$674,4 miliar pada Mei 2026.

Indonesia memiliki Taksonomi Hijau tetapi menghadapi kendala seperti minimnya proyek layak didanai, kapasitas analisis risiko lingkungan, serta akses terbatas bagi UMKM. Transisi energi juga terhambat oleh kebutuhan pembiayaan energi fosil yang tinggi. Pemerintah memproyeksikan industri kecil dan mikro hijau berpotensi menciptakan nilai ekonomi Rp 2.390 triliun pada 2030 jika didukung ekosistem pembiayaan hijau yang kuat.

Lukmanul mendorong pengembangan skema blended finance, digitalisasi penilaian hijau bagi UMKM, pemanfaatan AI untuk pemantauan dana, serta verifikasi independen agar setiap rupiah yang disalurkan dapat ditelusuri dampaknya. Tujuannya adalah memperkuat kepercayaan investor global dan memastikan klaim keberlanjutan dapat diuji berdasarkan standar yang jelas.

Berita terkait