Pembiayaan Hijau Meningkat, Bagaimana Dampaknya?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri perbankan Indonesia mencetak kinerja kredit hijau yang positif dengan ekspansi pembiayaan berkelanjutan sebagai bagian strategi bisnis. Namun, Komisaris Independen BRI Lukmanul Khakim menekankan pentingnya memastikan dampak lingkungan nyata untuk menghindari greenwashing atau pencitraan ramah lingkungan yang tidak akuntabel. Data GSIA menunjukkan aset investasi berkelanjutan global mencapai sekitar US$3,9 triliun hingga akhir 2025, naik lebih dari 600% dalam delapan tahun, sementara di AS aset ESG mencapai US$674,4 miliar pada Mei 2026.
Indonesia memiliki Taksonomi Hijau tetapi menghadapi kendala seperti minimnya proyek layak didanai, kapasitas analisis risiko lingkungan, serta akses terbatas bagi UMKM. Transisi energi juga terhambat oleh kebutuhan pembiayaan energi fosil yang tinggi. Pemerintah memproyeksikan industri kecil dan mikro hijau berpotensi menciptakan nilai ekonomi Rp 2.390 triliun pada 2030 jika didukung ekosistem pembiayaan hijau yang kuat.
Lukmanul mendorong pengembangan skema blended finance, digitalisasi penilaian hijau bagi UMKM, pemanfaatan AI untuk pemantauan dana, serta verifikasi independen agar setiap rupiah yang disalurkan dapat ditelusuri dampaknya. Tujuannya adalah memperkuat kepercayaan investor global dan memastikan klaim keberlanjutan dapat diuji berdasarkan standar yang jelas.
Bagikan
Berita terkait
ESG Award 2026 by KEHATI Dorong ESG Jadi Standar Baru Daya Saing Bisnis
JPNN.com · 7 Agustus 2026 pukul 02.01
BNI Lanjut Dukung Mahasiswa Indonesia yang Studi di Hong Kong
CNN Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 19.25
Finansial Kian Terjepit, Kemampuan Menabung Warga RI Diramal Turun
SINDOnews · 3 Agustus 2026 pukul 07.12
Malam Panjang di Rumah Maeda Sebelum Proklamasi
Liputan6.com · 17 Agustus 2026 pukul 05.30