Jakarta · Rabu, 26 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pemimpin Paling Berbahaya Bukan yang Bodoh, tapi yang Membuat Tim Berhenti Berpikir

David Marquet, mantan komandan kapal selam nuklir USS Santa Fe, menemukan bahwa pemimpin yang berbahaya bukanlah yang bodoh, tetapi yang membuat timnya berhenti berpikir secara mandiri. Insiden di dasar laut di mana seorang jurumudi tetap meneruskan perintah yang tidak bisa dilaksanakan hanya karena datang dari atas, menjadi pemicu Marquet untuk mengubah sistem kepemimpinan tradisional. Ia mengganti pola perintah-eksekusi dengan pendekatan di mana bawahan datang dengan rencana dan pertimbangan, bukan sekadar meminta izin. Dengan menggunakan bahasa 'I intend to...' dan melatih 'deliberate action', kapal itu berubah dari performa rendah menjadi salah satu kapal terbaik, dengan kru yang mulai bertanggung jawab dan berinisiatif. Perubahan ini tidak hanya meningkatkan kinerja operasional, tetapi juga menciptakan budaya di mana keberanian untuk bertanya dan menghentikan proses dianggap sebagai bentuk loyalitas tertinggi. Marquet menegaskan bahwa tugas seorang pemimpin bukanlah untuk tetap menjadi bottleneck, tetapi untuk membentuk lebih banyak pemimpin yang mampu berpikir dan bertindak mandiri. Ia menantang pemimpin untuk menguji keberhasilan mereka dengan bertanya: 'Apa yang terjadi jika Anda menghilang selama tiga bulan?' Jika tim tetap berfungsi dan mengambil keputusan, berarti mereka telah berhasil membentuk budaya kepemimpinan yang berkelanjutan. Pesan utama artikel ini adalah bahwa kepemimpinan sejati tidak mengedepankan ketergantungan pada satu individu, tetapi pada kemampuan kolektif organisasi untuk berpikir dan bertindak. Dengan memberikan tanggung jawab dan ruang bagi bawahan untuk berpikir, pemimpin dapat menciptakan organisasi yang lebih inovatif, responsif, dan berkelanjutan di jangka panjang.

Berita terkait