Penjualan Rumah Subsidi Ambruk, Ini Biang Keroknya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Penjualan rumah subsidi tahun ini mengalami penurunan drastis, bahkan dinilai lebih buruk dibandingkan masa pandemi Covid-19. Hingga 29 September 2026, penyerapan rumah subsidi baru mencapai 161.746 unit dari kuota pemerintah sebesar 350 ribu unit. Penurunan ini bukan disebabkan oleh kurangnya pasokan, melainkan lemahnya daya beli dan minat masyarakat (demand).
Faktor utama penyebab lesunya pasar adalah perubahan gaya hidup generasi muda yang lebih memprioritaskan konsumsi harian dan liburan daripada memiliki rumah. Selain itu, banyak calon pembeli terhambat riwayat kredit macet akibat pinjaman online di SLIK OJK. Meskipun pemerintah telah memberikan berbagai insentif seperti pembebasan pajak dan bunga KPR tetap 5%, minat Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) tetap rendah. Kondisi diperparah dengan meningkatnya kasus penghentian cicilan dan penjualan rumah bawah tangan karena pemilik tidak sanggup membayar angsuran.
Bagikan
Berita terkait
Kabar Terbaru! Prabowo Siapkan Skema KPR Subsidi Baru, Bunga Cuma 6%
CNBC Indonesia · 1 Oktober 2026 pukul 10.25
Bakal Ada KPR Bersubsidi untuk Masyarakat Bergaji Rp17 Juta Per Bulan
JPNN.com · 1 Oktober 2026 pukul 07.30
Tokyo Masuk Zona Bahaya Gelembung Properti, Harga Rumah Makin Tak Terjangkau
JawaPos · 29 September 2026 pukul 10.30
Video: Bos Properti Buka Soal Kasus Suap HGB-Tantangan Bisnis Properti
CNBC Indonesia · 25 September 2026 pukul 10.36