Petani Kelapa Sawit RI Menangis, Ada Bencana Depan Mata
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Aktivitas panen kelapa sawit di Kalimantan dan Sumatra terganggu akibat kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan pasokan solar. Para petani swadaya terpaksa mengurangi frekuensi panen, yang mengancam produksi minyak sawit mentah (CPO) dunia. Gangguan ini terjadi di tengah potensi El Nino yang diperkirakan menurunkan curah hujan dan hasil panen, serta harga kontrak berjangka minyak sawit acuan Malaysia yang naik lebih dari 15% tahun ini.
Dampak terparah terjadi di Sabah dan Sarawak, Malaysia, di mana harga solar nonsubsidi melonjak hampir 120%. Kedua wilayah itu menyumbang 43,9% produksi CPO Malaysia yang mencapai 20,28 juta metrik ton. Petani mengurangi frekuensi panen dari sekitar 2,5 putaran menjadi satu hingga dua putaran per bulan. Kuota solar bersubsidi Malaysia sebesar 200 liter per bulan dinilai jauh dari kebutuhan rata-rata petani yang mencapai 500 liter per bulan. Di Sumatra, yang menyumbang 55% produksi minyak sawit Indonesia, pasokan solar terbatas sejak pertengahan Juli sehingga interval panen diperpanjang dari 8-10 hari menjadi 8-12 hari.
El Nino parah pada 2015-2016 pernah memangkas produksi sawit Malaysia 18% dan Indonesia 3%. Asosiasi petani mendesak revisi kebijakan subsidi solar agar sesuai dengan kondisi geografis dan ekonomi petani, karena penundaan panen dapat mengurangi hasil panen Sarawak 15-20%.
Bagikan
Berita terkait
Video: Progam B50 - Risiko El Nino, Gimana Nasib Harga dan Produksi CPO?
CNBC Indonesia · 26 September 2026 pukul 15.00
Video: El Nino Ganggu Produksi CPO, Harga Minyak Sawit Lanjut Naik?
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 12.58
Video: Pengusaha Ungkap Efek Kemarau Panjang - Hama ke Produksi Kakao
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 10.42
RPN Latih 126 Pekebun Simalungun, Bidik Kenaikan Produktivitas Sawit
SINDOnews · 19 September 2026 pukul 21.34