Raksasa Farmasi AstraZenecca dan Bristol Myers Jajaki Merger
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3325939/original/013791300_1608135139-20201216-Vaksin-COVID-19-2.jpg)
AstraZeneca (Inggris) dan Bristol Myers Squibb (AS) tengah melakukan perundingan awal mengenai potensi merger. Jika berhasil, penggabungan ini akan menciptakan perusahaan farmasi terbesar di dunia dengan nilai hampir US$400 miliar (sekitar Rp7.212 triliun). Namun, rencana ini menghadapi risiko besar berupa penolakan dari otoritas antimonopoli AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang fokus memperkuat industri farmasi dan manufaktur domestik.
Kedua perusahaan memiliki tumpang tindih signifikan dalam bisnis obat kanker. AstraZeneca mendapatkan lebih dari setengah pendapatannya dari pengobatan kanker senilai US$25 miliar pada 2025, sementara obat onkologi Bristol Myers menyumbang lebih dari 40% total penjualan paruh pertama 2026. Produk imunoterapi kanker kedua perusahaan bersaing langsung di pasar. Seorang pengacara antimonopoli memprediksi FTC kemungkinan akan menolak merger ini atau mewajibkan pelepasan aset yang signifikan.
Bristol Myers sendiri sedang menghadapi tantangan karena beberapa produk unggulannya, termasuk obat kanker Opdivo dan pengencer darah Eliquis, akan kehilangan perlindungan paten pada 2028. Sementara itu, AstraZeneca telah merencanakan masuk ke bursa AS sejak 2025 untuk memperluas penetrasi pasar. Kesepakatan ini menjadi perhatian karena terjadi di tengah tren menyusutnya merger industri farmasi akibat tekanan antimonopoli dan tuntutan harga obat yang lebih murah.
Bagikan
Berita terkait
Tuntut Jaminan Rp34,5 triliun, Paramount Desak Negara Bagian AS Tanggung Biaya Penundaan Merger
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 06.41
Tak Cuma Asuransi Konvensional, Danantara Bidik Merger BUMN Asuransi Syariah
JawaPos · 2 Oktober 2026 pukul 18.00
Danantara Kaji Peluang Merger PGN dan Pertagas
CNN Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 17.40
Update Merger BUMN Karya, Perusahaan Ini Lebih Dulu Digabung
CNBC Indonesia · 2 Oktober 2026 pukul 17.30