Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Sarjito Ingin Ubah Indonesia dari Price Taker Jadi Price Maker

Sarjito, calon Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS), menyatakan ingin mengubah Indonesia dari price taker menjadi price maker dalam perdagangan mineral dan komoditas strategis. Indonesia yang kaya akan sumber daya mineral seperti nikel dan timah, saat ini masih bergantung pada harga yang ditentukan oleh bursa luar negeri seperti London Metal Exchange dan Shanghai Futures Exchange. Menurutnya, hal ini berpotensi menyebabkan kebocoran ekonomi melalui praktik under-invoicing dan transfer pricing.

Untuk mewujudkan target tersebut, Sarjito menyiapkan delapan kebijakan strategis yang mencakup pembangunan trusted infrastructure, trusted market, trusted product, dan trusted data. Infrastruktur yang dibutuhkan meliputi pergudangan, lembaga survei, bursa, dan lembaga kliring yang aman dan terintegrasi. Pasar harus transparan, adil, teratur, dan likuid. Data mineral dan komoditas yang tersebar di berbagai institusi juga perlu diintegrasikan untuk menjadi dasar pengambilan kebijakan dan pembentukan harga.

Pembangunan BMKS juga membutuhkan kolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kementeran terkait, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya. Sarjito menekankan bahwa ekosistem ini harus saling terkoneksi dan tidak bisa hanya bergantung pada satu regulator. Tujuannya adalah membuat BMKS menjadi referensi harga mineral dan komoditas strategis Indonesia, sehingga negara tidak selalu bergantung pada harga bursa luar negeri. Sarjito menegaskan bahwa penguatan BMKS harus selaras dengan amanat konstitusi, yakni mengelola kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait