Sennheiser, dari Bengkel Desa Jadi Ikon Audio Mewah Dunia
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4736439/original/085521400_1707220348-SmartSelect_20240206_184822_Microsoft_365__Office_.jpg)
Sennheiser, merek audio asal Jerman, berawal dari Laboratorium Wennebostel (Labor W) yang didirikan Prof. Dr. Fritz Sennheiser bersama tujuh insinyur pada Juni 1945 di rumah pertanian dekat Hanover. Awalnya memproduksi voltmeter, perusahaan beralih ke mikrofon DM 1 pada 1946, lalu resmi memakai nama Sennheiser electronic pada 1958. Pada 1968, HD 414 menjadi headphone open-back pertama di dunia dan melambungkan nama Sennheiser ke pasar internasional.
Selanjutnya Sennheiser menetapkan standar industri lewat mikrofon MD 421, mikrofon tembak, sistem nirkabel panggung, hingga teknologi suara spasial AMBEO. Di bawah generasi ketiga keluarga, Andreas dan Daniel Sennheiser, perusahaan fokus penuh pada segmen profesional seperti mikrofon panggung, sistem nirkabel, dan solusi konferensi, sementara lini konsumen dialihkan lewat lisensi kemitraan strategis. Investasi diarahkan pada riset dan pengembangan serta penguatan pabrik utama di Jerman dan Rumania.
Keberhasilan Sennheiser membangun citra sebagai standar audio premium dan simbol status, termasuk di Indonesia, berkat kombinasi presisi akustik, desain, dan posisi merek yang kuat. Produk seperti seri HD 600 dan HE 1 Orpheus dipandang bukan sekadar alat pemutar musik, melainkan bagian dari identitas penikmat audio.
Bagikan
Berita terkait
Balap Listrik Kini Punya Telinga: Sennheiser Masuk Formula E
SINDOnews · 16 Agustus 2026 pukul 12.54
Pemkot Tangsel Ingin Rumah Ibadah Jadi Titik Lahirnya Umat Berdaya Saing Global
JPNN.com · 15 Agustus 2026 pukul 18.16
Inovasi Bahan Bangunan Hadirkan Semen Rendah Karbon
Liputan6.com · 15 Agustus 2026 pukul 00.15
Remaja Masjid Tangsel Didorong Kuasai Coding dan AI
Media Indonesia · 14 Agustus 2026 pukul 18.00