Siapa Paling Untung dari Proyek Blok Masela? ESDM Bilang Begini
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Proyek LNG Abadi Blok Masela resmi dimulai pada 16 Juli 2026 setelah tertunda selama bertahun-tahun, dengan investasi sebesar US$20,9 miliar (≈Rp340 triliun). Presiden Prabowo Subianto memimpin upacara peletakan batu pertama, dan fasilitas tersebut direncanakan akan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 juta kaki kubik gas per hari, serta 35.000 barel kondensat per hari. Pemerintah mewajibkan minimal 60% hasil produksi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, mendukung industri penting seperti pabrik pupuk dan pembangkit listrik. Proyek ini juga menjadi yang pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) untuk mengurangi emisi karbon, menunjukkan komitmen terhadap transisi energi bersih. Secara ekonomi, proyek ini diperkirakan akan menciptakan hingga 12.000 lapangan kerja dan pemerintah menyiapkan program pelatihan vokasi khusus bagi penduduk Kepulauan Tanimbar agar mereka siap mengisi posisi utama di wilayah tersebut. Menurut juru bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia, keberhasilan proyek ini diukur dari seberapa besar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat lokal, bukan hanya dari nilai investasinya.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 29 Juli 2026 pukul 19.00
Proyek LNG Abadi Blok Masela Dimulai, Investasi Sentuh Rp 340 Triliun
Berita terkait
Kisah Prabowo ke Jepang dan Pertanyakan Proyek Raksasa 28 Tahun Mangkrak
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 17.35
Harga LNG Turun, Industri Keramik Siap Ekspansi Rp 10 Triliun
Liputan6.com · 6 Agustus 2026 pukul 20.45
Harga Khusus LNG Industri US$13/MMBTU Berlanjut di 2027? Ini Kata ESDM
Warta Ekonomi · 30 September 2026 pukul 16.45
Enlit Asia dan MKI Electricity Connect 2026 Hadirkan Kolaborasi Strategis untuk Sektor Energi
SINDOnews · 30 September 2026 pukul 16.34