Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Stasiun MRT dan Revitalisasi: Saatnya Kota Tua Tak Sekadar 'Tua'

PT MRT Jakarta (Perseroda) akan merenovasi Kota Tua Jakarta sebagai kawasan Transit-Oriented Development (TOD) baru, sejalan dengan proyek perpanjangan jalur MRT Fase 2A dari Stasiun Bundaran HI menuju Kota Tua. Revitalisasi ini mengusung konsep placemaking yang menggabungkan warisan sejarah dengan unsur modern. Area seperti Glodok yang terkenal sebagai pusat perbelanjaan elektronik dan Little Amsterdam akan dipertahankan identitasnya, sementara bangunan kolonial Belanda dan jejak pecinan tetap dilestarikan. Tujuannya agar wisatawan lebih betah tinggal di Jakarta, yang saat ini rata-rata hanya 3 hari 2 malam, sebelum beralih ke destinasi lain seperti Bali atau Bangka Belitung.

Samuel Ryan Pradipta Pranowo, Division Head Business Planning and Expansion Division PT MRT Jakarta, menjelaskan bahwa Kota Tua akan menjadi kawasan yang hidup dengan kombinasi retail, komunitas, seni, dan industri kreatif. Museum akan dikembangkan tidak hanya sebagai penyimpan artefak, tetapi juga ruang yang relevan dengan masa kini. Komunitas seperti Jakarta Film Committee yang dipimpin Wakil Gubernur Jakarta Rano Karno akan terlibat dalam pengembangan seni dan perfilman. Kawasan ini diharapkan menjadi wadah pengembangan sinema dan pameran seni, sekaligus meningkatkan pariwisata Jakarta.

Dalam konsep placemaking, Kota Tua juga akan dikembangkan menjadi area yang ramah bagi pejalan kaki, dengan potensi jalur tram bebas emisi dan zona larangan kendaraan bermotor untuk mengurangi polusi. Ruang retail dan komunitas akan berdampingan dengan kawasan bersejarah, menciptakan harmoni antara masa lalu dan masa depan. Dengan demikian, Kota Tua diharapkan memiliki identitas sendiri yang berbeda dari Blok M yang sudah dikenal sebagai skena anak muda ekspresif.

Berita terkait