Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Swipe Sekali, Rp23 M Melayang! Ini Sisi Gelap Startup Live Belanja

Aplikasi belanja live streaming Whatnot tengah mendapat sorotan akibat dampak negatifnya pada sejumlah pengguna. Sean Harding, seorang akuntan 45 tahun dari AS, mengaku menghabiskan sekitar Rp23 miliar (1,4 juta dolar AS) dalam empat bulan untuk mengoleksi kartu bisbol melalui aplikasi ini. Uang tersebut berasal dari tabungan, pinjaman pribadi, utang ke teman, hingga kartu kredit kantor. Pengakuannya bahkan mendorong sang istri mengajukan cerai. Whatnot, yang berusia tujuh tahun, diklaim menjadi platform live commerce tercepat di AS dengan 20 juta akun baru pada 2025 dan proyeksi pendapatan 1 miliar dolar AS tahun ini.

Desain aplikasi Whatnot dinilai sangat adiktif karena meniru pola media sosial dan memudahkan transaksi dengan sekadar satu kali geser layar tanpa halaman konfirmasi. Hal ini membuat pengguna kesulitan mengendalikan pengeluaran. Beberapa kasus ekstrem melibatkan Julie Johnson yang menghabiskan 120 ribu dolar AS dalam tiga tahun, dan Joe Thompson yang kehilangan seluruh tabungan pensiunnya serta mengakumulasi utang 75 ribu dolar AS setelah membeli koin kolektor yang ternyata dimanipulasi. Skor kredit Thompson anjlok dari 753 ke 563.

Di sisi lain, Whatnot juga menghadapi kritik terkait fitur 'breaks' yang dianggap mirip judi kasino, di mana pembeli membayar untuk membuka kotak secara acak. Pada 2022, sebuah kartu langka bernilai jutaan dolar berhasil ditemukan dan dijual seharga 2,4 juta dolar AS, memicu histeria. Pengacara perlindungan konsumen Paul Lesko mengajukan gugatan atas nama lebih dari 70 klien, menuding sistem ini sebagai bentuk lotre ilegal. Whatnot membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa pembeli selalu mendapatkan barang, bukan bermain judi. Perusahaan juga telah menambahkan fitur batas pengeluaran opsional dan tombol jeda belanja.

Berita terkait