Syailendra: Geopolitik menopang emas, imbal hasil riil jadi tekanan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

PT Syailendra Capital menilai risiko geopolitik menopang harga emas, sementara imbal hasil riil tinggi menjadi tekanan utama. Harga emas meningkat 227% dari 2016 hingga Januari 2026, koreksi 26% pada Januari-Juni 2026. Kenaikan harga dipicu oleh ketegangan AS-Iran, kondisi ekonomi global seperti pembelian bank sentral (Polandia terbesar dengan tambahan 82 ton pada Q1 2026), serta kekhawatiran fiskal. Federal Reserve mempertahankan suku bunga 3,50-3,75% pada Juli 2026 dengan inflasi PCE 3,7%, memicu penguatan dolar AS dan melemahnya rupiah menjadi Rp17.750 per USD. Simulasi portofolio menunjukkan alokasi 10% emas mengurangi penurunan pada krisis 2008, COVID-19, dan koreksi suku bunga 2022. Namun, tantangan lain seperti aksi profit-taking, valuasi tinggi, dan respons pasokan tambang dapat menghambat kenaikan harga emas.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
kumparan · 30 Agustus 2026 pukul 15.30
Usai Rebound Kuat, Harga Emas Kembali Fluktuatif Jelang Keputusan The Fed
SINDOnews · 31 Agustus 2026 pukul 15.45
Rupiah Melemah ke Rp17.722 Sore Ini, Tertekan Risiko Fiskal dan Geopolitik
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 13.15
Simak Daftar Lengkap Harga Emas Perhiasan Hari Ini 31 Agustus 2026
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 12.30
Rupiah Melemah ke 17.750 terhadap Dolar AS, Intip Prediksi Hari Ini
Berita terkait
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 31 Agustus 2026: Galeri24 dan UBS Sentuh Rp 2,6 Juta
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 12.00
Rupiah melemah seiring pidato "hawkish" dari Kepala The Fed
ANTARA News · 31 Agustus 2026 pukul 10.41
Harga Emas Antam Hari Ini 31 Agustus 2026 Stabil, Cek Daftar Lengkap di Sini
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 09.03
Meneropong Prospek Harga Emas Pekan Ini Usai Pidato Ketua The Fed
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 07.30