Jakarta · Selasa, 25 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Termasuk Peralatan, Ini Tiga Kendala yang Menghambat Penanganan Karhutla di Kalteng

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menjadi perhatian saat memasuki musim kemarau. Pengamat kebijakan publik Muhammad Gumarang mengidentifikasi tiga kendala utama dalam penanganan karhutla di Kalteng: keterbatasan sumber air, karakteristik lahan gambut, dan keterbatasan dana serta peralatan. Ketiganya saling terkait dan memperumit proses pemadaman, terutama ketika api menjalar ke lahan gambut yang sumber apinya berada di dalam tanah. Gumarang menekankan bahwa api di lahan gambut sulit dipadamkan karena dapat tersembunyi di bawah permukaan, sehingga diperlukan pasokan air dan peralatan yang memadai untuk memastikan titik kebakaran benar-benar padam.

Berdasarkan pemantauan satelit dan BMKG, tercatat 1.742 titik api di Kalimantan, dengan 976 di Kalteng dan 489 di Kalimantan Barat. Gumarang menyoroti perlunya pemerintah memperkuat sistem pencegahan, bukan hanya fokus pada pemadaman pasca-kejadian. Salah satu langkah yang diusulkan adalah pembangunan infrastruktur air terintegrasi, seperti kanal dan sumur bor, di wilayah rawan kebakaran. Kanal tidak hanya berfungsi sebagai sarana transportasi air dan pengairan pertanian, tetapi juga sebagai dukungan dalam membatasi dampak karhutla. Namun, proyek sumur bor yang dibangun pada 2018 di Kalteng dikabarkan mangkrak dan tidak berfungsi akibat dugaan korupsi anggaran.

Gumarang juga meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap pemegang izin lahan selama musim kemarau, karena kondisi kering berpotensi dimanfaatkan untuk pembukaan lahan ilegal yang meningkatkan risiko karhutla. Pengawasan dan kewajiban pencegahan harus diterapkan baik untuk lahan perusahaan maupun perorangan agar penanganan karhutla tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga proaktif sejak awal.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait