Jakarta · Jumat, 21 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Top Bukan RI, India Jadi Pasar Saham yang Paling Tak Disukai di Asia

India kini menjadi pasar saham yang paling tidak disukai investor di Asia, menggantikan posisi sebelumnya dari Indonesia. Hasil survei Bank of America (BofA) terhadap 98 pengelola dana dengan total aset yang dikelola mencapai US$272 miliar (sekitar Rp4.624 triliun) ini menunjukkan 32% responden berada dalam posisi underweight terhadap saham India. Minimnya eksposur jelas terhadap sektor kecerdasan buatan (AI), pertumbuhan ekonomi yang melemah, kurangnya reformasi, dan valuasi saham yang dinilai masih tinggi menjadi faktor utama menyebabkan investor bersikap pesimistis terhadap pasar saham terbesar keempat di Asia ini.

Meskipun demikian, pada kuartal ini, dana global telah membeli lebih dari US$4 miliar (sekitar Rp68 triliun) saham domestik India, menjadi yang terbesar di antara pasar negara berkembang regional setelah arus keluar dana besar pada paruh pertama tahun ini. Kinerja fundamental perusahaan juga menunjukkan perbaikan, dengan laba perusahaan dalam indeks NSE Nifty 50 melonjak 18% dibandingkan tahun sebelumnya, jauh di atas perkiraan sebesar 10%. Namun, kekhawatiran investor akibat risiko makroekonomi dan valuasi tinggi belum sepenuhnya mereda.

Berbeda dengan India, sentimen investor terhadap Indonesia justru membaik. Persentase pengelola dana yang underweight terhadap pasar saham Indonesia turun dari 32% pada Juli menjadi 27%. Penguatan ini sejalan dengan lonjakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah melewati 20% dari level terendah pada Juni, didukung oleh langkah-langkah Bank Indonesia untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengurangi kekhawatiran akan penurunan status pasar India menjadi pasar frontier oleh MSCI. Di Asia, Taiwan dan Jepang masih menjadi kawasan yang paling disukai investor dalam survei tersebut.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait