Video:Pilah-pilih Reksa Dana dan Unit Link Saat Selat Hormuz Masih Panas
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah dan tekanan harga minyak serta inflasi global pada 2026, Presiden Direktur Infovesta Utama, Edbert Suryajaya menyoroti prospek investasi di pasar keuangan Indonesia. Menurutnya, reksa dana tetap menjadi instrumen yang menawarkan imbal hasil menjanjikan, namun pemilihan harus disesuaikan dengan tujuan dan profil risiko masing-masing investor.
Reksa Dana Saham masih menjadi pilihan menarik bagi investor yang bersedia menanggung risiko lebih tinggi, mengingat potensi pertumbuhan yang cukup besar. Namun, karena volatilitas pasar yang dapat berubah cepat, instrumen ini kurang cocok untuk investor dengan profil konservatif.
Untuk investor konservatif, Reksa Dana Pendapatan Tetap menjadi alternatif yang lebih aman meskipun imbal hasilnya tidak setinggi reksa dana saham. Edbert menekankan pentingnya investor memahami risiko masing-masing instrumen sebelum mengambil keputusan investasi, terutama di tengah kondisi pasar yang dinamis hingga akhir 2026. Strategi yang tepat, termasuk diversifikasi melalui Unit Link, perlu dipertimbangkan untuk menghadapi ketidakpastian yang berkelanjutan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 22 Agustus 2026 pukul 20.00
Raup Rp 48,8 Triliun, Sucor AM Gaet 900 Ribu Investor
Berita terkait
Pasar Asia: Saatnya Lirik Potensi Pertumbuhan Dari Negara Tetangga
JawaPos · 21 Agustus 2026 pukul 11.00
Rupiah Berpotensi Melemah Hari Ini, Hasil Keputusan BI Rate Jadi Sorotan Pasar
JawaPos · 20 Agustus 2026 pukul 08.17
BI Prediksi Ekonomi Global Tumbuh 3%
Detik.com · 19 Agustus 2026 pukul 14.57
Harga Emas Antam Hari Ini 19 Agustus 2026: Turun Drastis ke Rp2.645.000
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 10.14