ViriyaENB: Penggunaan Bahan Bakar Fosil Jadi Tantangan Penurunan Emisi
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus, menyatakan bahwa sektor industri dan transportasi di Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil, menjadi hambatan utama dalam upaya penurunan emisi. Ketergantungan ini tidak hanya meningkatkan emisi karbon, tetapi juga memperparah polutan lokal seperti PM2.5 yang langsung mempengaruhi kesehatan masyarakat. Suzanty menekankan bahwa dampak polutan ini terasa segera dan tidak perlu menunggu hingga akhir tahun untuk terlihat.", "Suzanty mengungkapkan bahwa banyak industri di Indonesia masih menggunakan batu bara secara langsung, termasuk sektor semen, baja, kimia, dan smelter mineral. Selain itu, bahan bakar di sektor transportasi meng mengandung sulfur tinggi, menyebabkan tingkat polusi udara di perkotaan melebihi batas yang ditetapkan oleh pemerintah dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Menghadapi tantangan ini, Suzanty menekankan perlunya kolaborasi antar-sektor dan pemerintah pusat hingga daerah, karena polusi udara tidak mengenal batas wilayah. Ia juga mendorong pembentukan sistem yang lebih terkoordinasi untuk mengatasi kelemahan institusional, biaya teknologi, dan implementasi strategi yang sudah ada.
Bagikan
Berita terkait
Allo Bank Makin Tertekan, Laba Turun 4% dan DPK Ambles 29%
Warta Ekonomi · 30 September 2026 pukul 12.41
Emiten Grup Djarum Rencanakan Buyback, TOWR Siapkan Dana Rp 500 Miliar
CNBC Indonesia · 30 September 2026 pukul 12.35
Gibran Berani Bilang 'MBG Jangan Dimakan' Dinilai Sudah Semakin Jelas, Anggap Prabowo Cuma...
Warta Ekonomi · 30 September 2026 pukul 12.35
Pertamina Siapkan Bisnis Energi Rendah Karbon sebagai Sumber Pertumbuhan Baru
kumparan · 30 September 2026 pukul 12.34