Jakarta · Sabtu, 12 September 2026Cari
WargaKonoha

25 Tahun Tragedi 9/11: Fakta, Teori Konspirasi, dan Dampaknya di Media

Serangan 9/11 pada 11 September 2001 dilakukan oleh kelompok al-Qaeda di bawah pemimpinan Osama bin Laden, yang menewaskan hampir 3.000 orang dengan menghantam Menara Kembar World Trade Center, Pentagon, dan mencegah penyerangan ke Capitol. Serangan ini dinyatakan sebagai terorisme oleh pemerintah AS dan menjadi dalih bagi AS untuk memulai perang melawan teror global. Menurut SINDOnews, lebih dari 6.000 orang dilaporkan terluka dalam serangan tersebut, sementara Detik.com tidak menyebutkan jumlah korban luka secara spesifik.

Menjelang 25 tahun setelah tragedi, teori konspirasi masih beredar luas. SINDOnews melaporkan bahwa teori konspirasi antisemit yang menyudutkan kelompok Yahudi tetap berkembang, dengan identifikasi kembali oleh sebuah organisasi nirlaba teknologi. Detik.com menyebutkan klaim berbeda seperti dugaan pembunuhan sengaja Menara Kembar oleh pemerintah AS, yang dibantah oleh penelitian dari NIST, MIT, dan Weidlinger yang menjelaskan runtuhnya gedung akibat benturan pesawat dan kebakaran. Survei YouGov 2023 yang dilaporkan Detik.com menunjukkan bahwa 20% warga AS masih mempercayai pemerintah terlibat dalam 9/11.

Media sosial diidentifikasi sebagai faktor yang mempercepat penyebaran narasi konspirasi, yang sering kali menyudutkan kelompok minoritas seperti orang Yahudi. Menurut Detik.com, psikolog sosial menjelaskan bahwa teori konspirasi muncul dari kebutuhan manusia akan kontrol dan penjelasan atas peristiwa yang menakutkan. CEO CyberWell Tal-Or Cohen Montemayor, sebagaimana dilaporkan SINDOnews, menyatakan bahwa signifikansi teori konspirasi tersebut jauh melampaui tuduhan spesifik terhadap kelompok tertentu.

Menurut tiap media