Jakarta · Rabu, 30 September 2026Cari
WargaKonoha

Perluasan Kebijakan AI China, Remaja Hebat, dan Inisiatif Narkoba Berbasis Teknologi

Berbagai peristiwa terkait kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan utama. Universitas di China menghentikan atau menunda 12.200 program studi sejak 2021-2025, mengalihkan mahasiswa ke bidang AI, chip, dan robotika. Program seni, humaniora, manajemen, dan bahasa paling terdampak meliputi ilustrasi, fotografi, penerjemahan, tata busana, serta desain produk. Pemerintah China juga melonggarkan pembelian chip GPU Nvidia RTX PRO 5500 oleh perusahaan besar seperti ByteDance dan Alibaba, sekaligus memperluas pembatasan perjalanan luar negeri bagi petinggi AI perusahaan swasta dan produsen chip, termasuk anggota keluarga terdekat. Di sisi lain, adopsi model AI buatan China di platform pengembang global mengalami lonjutan drastis sepanjang 2026, dengan pangsa token model China naik drastis di OpenRouter dan Vercel. Fenomena ini paling kuat di wilayah Global South seperti Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Di Global South, 67% token korporat didukung oleh model China. Model seperti DeepSeek, Z.ai, dan Alibaba populer karena performa coding yang kuat dan biaya yang jauh lebih murah dibandingkan laboratorium AI Amerika. Para ahli khawatir hal ini menggeser pengaruh geopolitik global ke arah Beijing. Di samping itu, seorang remaja berusia 13 tahun asal Hangzhou, China, yang bernama Yang Xizhe, viral sebagai "Elon Musk masa depan" karena keahliannya di bidang Artificial Intelligence (AI). Ia dikenal sebagai bagian dari generasi asli AI yang memanfaatkan teknologi tersebut untuk berbagai inovasi, termasuk metode belajar kosakata bahasa Inggris melalui platform Doubao yang mencapai 20 juta penayangan. Selain konten edukasi, Xizhe aktif dalam kompetisi hackathon. Ia menjuarai Moonshot 48 Hackathon dengan menciptakan sistem penglihatan berbasis AI untuk membantu tunanetra merias wajah secara mandiri. Meski orang tuanya tidak memiliki latar belakang teknologi, mereka mendukung penuh cita-citanya menjadi programmer atau periset AI untuk memberikan dampak positif bagi dunia. Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto mengarahkan perumusan model kurikulum dan rehabilitasi narkoba yang berfokus pada remaja dan anak muda. Pendekatan ini bertujuan agar pengguna tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga mampu kembali menjalani kehidupan yang produktif. Pemerintah menekankan bahwa penanganan narkoba tidak boleh hanya mengandalkan proses hukum, melainkan harus diperkuat dengan aspek pendidikan. Dalam implementasinya, pemerintah akan mengintegrasikan dukungan teknologi dan praktik terbaik dari perguruan tinggi, termasuk masukan dari dokter RSCM dan peneliti Universitas Indonesia. Kolaborasi ini melibatkan fakultas kedokteran dan psikologi guna memastikan efektivitas proses pemulihan bagi generasi muda.

Menurut tiap media