Jakarta · Kamis, 27 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AI dan Robotik di China: Transformasi Pasar Kerja dan Dampak Otomatisasi

AI dan robotik semakin mendominasi pasar kerja China, didukung kebijakan pemerintah yang mendorong adopsi teknologi ini. Menurut IDC, persentase perusahaan industri China yang menggunakan model dan agen AI mencapai 47,5% pada 2024, melonjak drastis dari 9,6% pada 2023. Robot humanoid kini digunakan di pusat logistik untuk menyortir paket, mengatur lalu lintas, dan membuat kopi. AI generatif juga mendukung produksi dan distribusi drama pendek, menyebabkan penurunan 75% dalam jumlah serial video aksi nyata vertikal pada kuartal pertama 2024.

Beberapa pekerja kehilangan pekerjaan akibat adopsi AI dan robotik. Sejumlah pekerja, termasuk Fei Zhaojun dan sekitar 160 rekan-rekannya, dipecat. Du Qinchun, penerjemah paruh waktu, kini melatih model AI untuk penerjemahan, namun upahnya berkurang drastis. Wang Zhicheng, mantan penulis naskah, mengundurkan diri dan membuka studio sendiri setelah setengah dari rekan-rekannya dipecat. Laporan ILO menunjukkan perempuan lebih rentan kehilangan pekerjaan akibat otomatisasi karena banyak bekerja di sektor yang mudah digantikan.

Pemerintah China mengalokasikan dana US$20 miliar untuk inovasi AI dan robotik, dengan lebih dari 2 juta robot di pabrik dan lebih dari separuh robot industri global diproduk di sana. Transformasi ini menyasar 120 juta pekerja di sektor manufaktur. Meski AS unggul dalam pemrograman AI, perusahaan rintisan China seperti DeepSeek bersaing dengan model open-source. Analis Shujing He dari firma riset Plenum menyatakan bahwa sentimen anti-AI di China relatif rendah, dan banyak yang positif atau netral terhadap AI.

Menurut tiap media