Jakarta · Minggu, 6 September 2026Cari
WargaKonoha

AI di Indonesia: Adopsi Tinggi, Tantangan Kesenjangan dan Dampak Sosial

Indonesia masuk lima besar dunia dalam penggunaan ChatGPT Codex untuk pemrograman dan analisis data, menurut laporan SEAPPI dan OpenAI. Pencapaian ini mencerminkan adopsi AI yang tinggi di kalangan pengguna Indonesia, dengan lebih dari 90% pekerja yang mengandalkan pengetahuan telah menggunakan generative AI. Namun, terdapat ketimpangan tajam antara pengguna biasa dan power user yang menggunakan AI untuk pekerjaan bernilai tinggi. Hanya sekitar 5% pengguna AI yang intens memanfaatkan AI untuk pekerjaan kompleks, meskipun lebih dari 80% masyarakat menganggap AI memberi manfaat lebih besar.

White paper SEAPPI yang diterbitkan bersama OpenAI dan Vriens & Partners mengidentifikasi dua peluang utama untuk menutup kesenjangan kapabilitas AI: memperluas akses perangkat AI di tingkat institusi dan meningkatkan keahlian pengguna untuk tugas kompleks. Meskipun adopsi AI di Indonesia mencapai 92 persen, distribusi penggunaan masih terkonsentrasi pada kelompok kecil. White paper merekomendasikan empat sektor sebagai titik awal perluasan AI dan menekankan pentingnya keterampilan praktis, panduan regulasi yang jelas, dan koordinasi lintas instansi pemerintah.

Di sisi lain, AI diproyeksi berkontribusi Rp 6.474 triliun pada PDB Indonesia pada 2030, tergantung penggunaan yang lebih kompleks. Empat hambatan utama yang diidentifikasi meliputi fondasi digital, keterampilan dan talenta, kapasitas inovasi, serta kejelasan regulasi. Diskusi di berbagai forum, termasuk World Encounter Summit 2026 di Bali dan Ideafest 2026, menekankan pentingnya menjaga kemanusiaan di tengah pesatnya perkembangan AI, dengan menempatkan nilai, penghakiman, dan tanggung jawab sebagai tiga hal yang tidak boleh diserahkan ke mesin.

Menurut tiap media