Jakarta · Kamis, 17 September 2026Cari
WargaKonoha

Anak Krakatau tumbuh kembali, ilmuwan perdebatkan risiko tsunami pasca-2018

Gunung Anak Krakatau kembali tumbuh setelah sebagian tubuhnya runtuh dan memicu tsunami pada 2018. Profesor Sebastian Watt dari University of Birmingham menjelaskan bahwa struktur gunung saat ini berbeda dari kondisi sebelum 2018. Meskipun tubuh gunung masih lebih rendah dari sebelumnya, diameter pulau kini lebih lebar. Pasca-keruntuhan, terjadi lonjakan laju erupsi yang sangat tinggi sebelum akhirnya melambat. Karena perubahan pola pertumbuhan dan struktur fisik ini, ilmuwan menekankan bahwa data sebelum 2018 tidak bisa digunakan secara langsung untuk menggambarkan kondisi saat ini.

Sementara itu, Kepala PVMBG SS Rita Susilawani menyatakan kondisi gunung saat ini tidak mengkhawatirkan. Dengan ketinggian sekitar 150 meter dan lereng yang landai, potensi keruntuhan tubuh gunung diprediksi tidak akan memicu tsunami. Aktivitas gunung telah kembali ke tipe erupsi normal (strombolian) dan tidak tercatat adanya erupsi dalam dua hari terakhir. PVMBG terus melakukan monitoring berkala untuk memastikan keamanan wilayah sekitar.

Perbedaan muncul terkait laju pertumbuhan dan risiko tsunami. Detik.com menekankan pentingnya pemantauan berkelanjutan akumulasi material vulkanik untuk memprediksi aktivitas masa depan. Media Indonesia menyatakan pertumbuhan konstruktif cepat akibat posisi tektonik, sistem magma terbuka, dan karakteristik magma encer serta suhu tinggi. Kedua sumber setuju bahwa data sebelum 2018 tidak relevan lagi, namun berbeda dalam menilai tingkat risiko tsunami saat ini.

Menurut tiap media