Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

AS dan Iran Bertukar Tekanan: Sanksi Baru dan Seruan Produksi Dalam Negeri

Pemerintahan AS di bawah Presiden Donald Trump berencana memberlakukan sanksi baru terhadap bank untuk meningkatkan isolasi ekonomi Iran, sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan AS Scott Bessent dalam wawancara kepada Associated Press menjelang pertemuan G20 di Asheville, Carolina Utara. Langkah ini merupakan lanjutan strategi AS yang beralih dari konflik militer ke tekanan ekonomi selama perang enam bulan ini, termasuk serangan militer terbaru terhadap peluncur roket Iran di Selat Hormuz yang menandai aksi militer pertama AS dalam sebulan. Iran menyatakan akan membalas dengan 'serangan mematikan'.

Di sisi lain, Mojtaba Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, menyerukan penguatan produksi dalam negeri dan pengurangan ketergantungan pada dolar Amerika Serikat akibat sanksi baru Washington. Ia menekankan perlawanan ekonomi sebagai kunci mengatasi inflasi, pengangguran, dan kontrol harga, sambil memuji pemerintahan Presiden Masoud Pezeshkian dan menegaskan pentingnya persatuan sosial serta penerapan teknologi dari generasi muda Iran.

Sementara itu, JD Vance menyatakan penurunan harga minyak Amerika menjadi prioritas Washington, sementara upaya mencegah Iran kembangkan senjata nuklir berada di urutan kedua. Perbedaan jelas muncul dalam penekanan masing-masing pihak: AS tertuju pada tekanan finansial dan keamanan energi, sementara Iran fokus pada kemandirian ekonomi dan perlawanan domestik. Sanksi baru juga ditujukan untuk memengaruhi mitra dagang Iran, termasuk Cina yang menjadi pembeli utama minyak Iran, meskipun pemerintah AS tidak merinci nama bank yang akan disanksi.

Menurut tiap media