Bahlil: Kesepakatan ASEAN Power Grid Tertunda hingka Skema Harga Dianggap Adil
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyatakan bahwa Indonesia belum menandatangani kesepakatan ASEAN Power Grid karena skema harga yang ditawarkan belum dianggap adil dan saling menguntungkan. Dalam acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Bahlil menegaskan bahwa ia hanya akan menandatangani setelah dianggap win-win bagi semua pihak, termasuk negara anggota ASEAN. Ia menekankan pentingnya transparansi dan keadilan dalam perundingan, menolak konsep di mana satu negara mendapatkan keuntungan lebih besar dari negara lain.
ASEAN Power Grid bertujuan untuk menghubungkan jaringan listrik lintas negara anggota ASEAN guna mempermudah perdagangan listrik dan meningkatkan ketahanan energi kawasan. Bahlil menjelaskan bahwa kerja sama tidak dapat disebut saling menguntungkan jika pembagian manfaatnya tidak adil, seperti satu pihak mendapatkan 70 persen dan pihak lain hanya 30 persen. Indonesia tetap komited untuk berpartisipasi, namun menunggu skema yang benar-benar menguntungkan semua pihak secara proporsional.
Di sisi lain, Indonesia juga membahas kerja sama energi terkait pengembangan energi baru terbarukan, termasuk program biodiesel yang telah mencapai B50 dan rencana pengembangan pembangkit listrik tenaga surya hingga 100 GW. Kerja sama Indonesia dan Malaysia dalam bidang jaringan listrik sudah berjalan, dan proyek serupa akan segera melibatkan Filipina. Selain itu, Singapura juga tertarik mengimpor listrik dari Indonesia, namun kedua belah pihak masih melakukan studi terkait skema harga agar tetap menguntungkan.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
Liputan6.com
Bahlil Akui Belum Sepakat Soal Harga dari ASEAN Power Grid
22 September 2026 pukul 14.15 · Baca aslinya ↗
CNBC Indonesia
Listrik Lintas ASEAN Belum Terealisasi, Bahlil: Harganya Belum Win-Win
22 September 2026 pukul 17.30 · Baca aslinya ↗