BI Digitalisasi Sistem Pembayaran dan Pertegas Keamanan QRIS di Tengah Ancaman Siber
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Bank Indonesia (BI) aktif mendigitalisasi sistem pembayaran untuk meningkatkan efisiensi dan daya beli masyarakat. Gubernur BI Destry Damayanti menyatakan 94,9% atau 518 pemda telah terintegrasi dalam sistem pembayaran. Sistem QRIS diperluas ke 47,11 juta merchant dengan pertumbuhan 13,38% tahunan, sementara pengguna mencapai 69,32 juta dengan target 23,26%. Infrastruktur lain seperti SNAP mencapai 2,69 miliar transaksi (67,12% tumbuh), BI FAST 549 juta transaksi ritel, serta modernisasi BI RTGS.
Kerugian akibat serangan siber di Indonesia diperkirakan mencapai US$6,2 miliar pada 2026, menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang disampaikan Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Pesatnya adopsi AI dan otomasi meningkatkan risiko cyber, penyalahgunaan data, fraud, dan scam. Untuk mengantisipasi risiko tersebut, BI memperkuat sistem keamanan QRIS. Hingga 2026, jumlah merchant QRIS mencapai 47,11 juta (13,83% pembiayaan tahunan), sementara pengguna QRIS diproyeksikan 69,32 juta pada akhir tahun. Besarnya ekosistem digital memerlukan sinergi kebijakan keamanan sistem pembayaran antara BI, industri, dan K/L untuk melindungi konsumen.
Transaksi melalui SNAP mencapai 2,69 miliar transaksi (67,16% pertumbuhan tahunan) pada Agustus 2026. Digitalisasi tetap menjadi instrumen utama untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi, tetapi harus beriringan dengan penguatan keamanan. Kartu Kredit Indonesia (KKI) telah dikeluarkan sebanyak 32.457 kartu.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
CNBC Indonesia
BI Digitalisasi Sistem Pembayaran Pemda-Warga RI, Daya Beli Terkerek!
24 September 2026 pukul 11.00 · Baca aslinya ↗
Warta Ekonomi
Kerugian Serangan Siber RI Capai US$6,2 Miliar, BI Pertebal Sistem Keamanan QRIS
24 September 2026 pukul 13.36 · Baca aslinya ↗