BI Pertahankan BI-Rate 5,75%, Perluas Insentif FX Swap untuk Stabilitas Rupiah
Rangkuman gabungan dari 2 media · disusun dengan AI
Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menyatakan stabilisasi rupiah tidak harus selalu mengandalkan kenaikan suku bunga. Menurutnya, Bank Indonesia (BI) dapat memanfaatkan instrumen seperti FX swap, domestic non-deliverable forward (DNDF), pengelolaan likuiditas, dan arus modal asing untuk menanggapi tekanan nilai tukar yang bersumber dari yield global, harga minyak, dan ketidakpastian moneter global.
Pada Agustus 2026, BI mempertahankan BI-Rate pada 5,75 persen dan memperluas insentif pengurangan premi FX swap sebesar 12,5 persen, yang sebelumnya hanya untuk portfolio inflows, kini juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan FDI. Fakhrul menilai BI telah mulai memisahkan harga uang, risiko valuta asing, dan likuiditas domestik, sehingga tidak seluruh persoalan harus diselesaikan melalui BI-Rate.
Fakhrul mengacu pada pengalaman India yang berhasil menarik 143,6 miliar dolar AS FX inflows melalui fasilitas swap konsesional. Namun, ia menekankan Indonesia tidak perlu menyalin kebijakan India secara penuh. BI dapat mempertimbangkan fasilitas hedging yang bersifat temporary, capped, dan duration-sensitive, memberikan insentif lebih besar untuk modal jangka panjang seperti parent-bank funding, FDI, dan portfolio inflows berjangka panjang. Fasilitas ini harus berfungsi sebagai jembatan saat pasar mengalami dislokasi, bukan menggantikan mekanisme pasar secara permanen.
Bagikan
Menurut tiap media
Judul dan sudut masing-masing portal, apa adanya.
ANTARA News
Ekonom: Stabilisasi rupiah tidak harus selalu andalkan kenaikan bunga
22 September 2026 pukul 09.48 · Baca aslinya ↗
JPNN.com
Ekonom Ingatkan Stabilitas Kurs Rupiah Memiliki Banyak Faktor
22 September 2026 pukul 10.12 · Baca aslinya ↗