Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Bimbel di Yogyakarta Viral, Antrean Orang Tua hingga Depan Gang

Bimbingan belajar (bimbel) di kompleks Gang Gayam, Gondokusuman, Yogyakarta, dikelola oleh Yurin Gagarin, pensiunan guru, tiba-tiba ramai perhatian setelah video antrean orang tua sejak subuh viral di media sosial. Bimbel ini awalnya dibangun pada awal 2000-an dengan biaya Rp 150 ribu per anak hanya untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Sekarang, tarif tetap Rp 150 ribu per mata pelajaran per bulan, namun cakupan sudah empat mata pelajaran: Bahasa Indonesia, Matematika, IPA, dan Bahasa Inggris. Tidak ada seleksi masuk; siapa saja yang mendaftar dapat tempat. Dampaknya, sebagian besar murid berhasil masuk ke SMA negeri favorit seperti SMA Negeri 1 dan 3 Yogyakarta, serta Taruna Nusantara di Magelang.

Menurut Liputan6.com, antrean panjang dan kuota terbatas—dilaporkan antara 400 hingga 500 siswa per bulan dengan kapasitas kelas maksimal 20 siswa—menjadi sorotan terkait kebijakan Tes Kemampuan Akademik (TKA). Pengamat pendidikan Ina Liem menilai fenomena ini sebagai konsekuensi dari sistem yang mendorong pola 'teaching to the test', di mana fokus pendidikan bergeser dari pemahaman konsep ke strategi menjawab soal ujian. Akibatnya, orang tua semakin banyak mencari bimbel, dan anak-anak dilatih khusus untuk menaklukkan soal-soal ujian.

Ina Liem menyoroti bahwa jika asesmen hanya menciptakan industri persiapan tes yang semakin besar, tujuan pendidikan perlu ditinjau kembali. Ia menekankan pentingnya melibatkan perspektif dunia kerja dan keterampilan seperti critical thinking, creativity, problem solving, dan adaptability di era AI. Sebagai solusi, ia menyarankan agar TKA dihapus dan diganti dengan evaluasi yang disesuaikan oleh masing-masing sekolah, sementara pemetaan nasional tetap menggunakan Asesmen Nasional (AN). Menko PMK Pratikno juga sempat memasukkan anaknya ke bimbel ini, menambahkan gambaran sokongan publik terhadap lembaga yang dikelola oleh pensiunan guru ini.

Menurut tiap media