Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

BNPB dan Komnas HAM imbau pantau ISPU serta lindungi hak warga terdampak karhutla di Sumatera dan Kalimantan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta warga di Kalimantan dan Sumatera untuk rutin memantau Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) sebagai upaya perlindungan diri dari paparan asap tebak akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan ISPU menjadi penting karena sebaran polutan asap tebal terdeteksi kian meluas berdasarkan prediksi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan menjelaskan bahwa sebaran polutan asap saat ini terkonsentrasi di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Di Pulau Sumatera, titik polutan pekat terpantau di Provinsi Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan (Sumsel).

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) meminta pemerintah pusat dan daerah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan dengan memastikan perlindungan serta pemulihan hak warga terdampak. Karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan hutan, tetapi juga memengaruhi hak masyarakat atas lingkungan hidup yang bersih, kesehatan, penghidupan, pendidikan, pangan, dan air. Hingga pertengahan Agustus 2026, luas lahan terbakar secara nasional mencapai sekitar 107.000 hektare, dengan enam provinsi menjadi prioritas penanganan: Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

BNPB juga mengungkapkan sebaran titik api kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih aktif di enam provinsi prioritas dan Papua Barat. Di Kalimantan Barat, terdeteksi 61 titik api dengan luas lahan terbakar 802 hektare, dari mana 432 hektare berhasil dipadamkan. Kualitas udara di wilayah ini masuk kategori berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer. Kalimantan Tengah merekam 70 titik api terbanyak dengan lahan terbakar 225 hektare, dan 197 hektare berhasil diatasi. Di Kalimantan Selatan, terdapat 56 titik api dan 305 hektare lahan terbakar, dengan 112 hektare yang berhasil dipadamkan. BNPB juga menggunakan drone termal untuk mendeteksi api di dalam tanah dan melakukan injeksi surfaktan untuk menjaga kelembapan lahan gambut.

Menurut tiap media