Jakarta · Sabtu, 3 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Data Center AI Borongan Air: 25,5 Juta Liter/Tahun vs Solusi Daur Ulang

Beberapa media melaporkan penggunaan air yang signifikan oleh pusat data (data center) khususnya untuk operasional artificial intelligence (AI). Menurut Warta Ekonomi, data center dengan kapasitas 1 MW dapat mengonsumsi hingga 25,5 juta liter air per tahun, setara dengan kebutuhan harian 300.000 orang. Data center sebesar 15 MW diperkirakan menghabiskan air setara tiga rumah sakit rata-rata atau lebih dari dua lapangan golf. Warta Ekonomi juga menyebutkan bahwa GPT-3 membutuhkan 500 ml air untuk menghasilkan 10 hingga 50 respons, sementara World Economic Forum (WEF) memperkirakan permintaan air AI global pada 2027 mencapai 1,1 hingga 1,7 triliun galon, setara 4 hingga 6 kali penggunaan air Denmark dalam setahun. Media ini menekankan bahwa penggunaan air belum mendapat perhatian yang sama dengan emisi karbon, namun pengelolaan air sirkular melalui daur ulang dan penggunaan air hujan dapat mengurangi konsumsi air tawar hingga 50 hingga 70%.

Di sisi lain, kumparan mengutip penjelasan Ir. Poetro Lebdo Sambegoro dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengenai data center AI di Jatiluhur, Purwakarta. Menurutnya, ribuan perangkat komputer dalam data center menghasilkan panas besar, sehingga air digunakan sebagai medium pendingain dengan sistem closed loop atau menara pendingin untuk memindahkan panas ke lingkungan. Besarnya kebutuhan air bergantung pada ukuran data center, konsumsi listrik, dan desain sistem pendingin. Ia menekankan pentingnya perhitungan yang cermat agar penggunaan air tidak mengurangi pasokan untuk kebutuhan masyarakat, serta menyebutkan potensi penggunaan teknologi daur ulang. Jika pasokan air tidak mencukupi, kapasitas sistem pendingain akan menurun, berisiko menyebabkan perangkat overheat dan penurunan kinerja.

Perbedaan dilaporkan terkait skala dan lokasi data center yang dianalisis. Warta Ekonomi memberikan perkiraan konsumsi air berdasarkan kapasitas tertentu secara nasional dan global, sementara kumparan lebih fokus pada kondisi spesifik data center di Jatiluhur. Kedua sumber juga berbeda dalam pendekatan: Warta Ekonomi menekankan data kuantitatif dan proyeksi masa depan, sedangkan kumparan lebih menjelaskan mekanisme teknis dan faktor lokasi.

Menurut tiap media