Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Emisi Karhutla Indonesia Tertinggi di Dunia, 437 Hektare Masih Ditangani

Pada 1-7 September 2026, emisi karbon dioksida akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mencapai 19,7 juta metrik ton, menjadi tertinggi di dunia dan melampaui Rusia, menyumbang lebih dari sepertiga emisi kebakaran hutan global. Lonjakan ini dipicu cuaca panas dan kering akibat super-El Niño, terutama di Kalimantan dan Sumatera bagian timur. Kualitas udara turun rakak, dengan indeks kualitas udara di Pontianak mencapai 394. Data pemerintah mencatat 202.000 hektare lahan terbakar pada Januari-Juli 2026, melonjak menjadi 600.000 hektare pada Agustus, dengan 13.443 titik panas pada 1 Agustus hingga 8 September, melebihi rekor 2015. Musim kebakaran diperkirakan berlangsung hingga Oktober.

BNPB mencatat 437,3 hektare lahan masih terbakar di enam provinsi prioritas: Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Pemerintah menggunnakan satuan tugas darat dan udara, dengan satgas darat sebagai kekuatan utama dan helikopter water bombing untuk lokasi sulit. Di Riau, kondisi mulai terkendali berkat turunnya hujan, namun Kalimantan Tengah masih memerlukan perhatian khusial terkait kebakaran dan kualitas udara. Sebanyak 12.880 personel gabungan dikerahkan di Kalimantan.

Perbedaan data muncul terkait luas area yang terbakar. Detik.com melaporkan 600.000 hektare pada Agustus 2026, sementara Media Indonesia menyebutkan 437,3 hektare masih dalam penanganan pada periode yang sama. Detik.com merujuk pada data Copernicus Uni Eropa, sementara Media Indonesia mengutip pencatatan BNPB. Kedua sumber tidak saling kontradiksi secara langsung karena melaporkan aspek berbeda: total akumulasi lahan terbakar versus area yang masih aktif ditangani.

Menurut tiap media