Jakarta · Minggu, 20 September 2026Cari
WargaKonoha

Update Penanganan Karhutla 6 Provinsi, Fokus pada Habitat Gajah di Sumatera Selatan

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan pembaruan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di enam provinsi prioritas. Upaya pemadaman dilakukan melalui pemadaman darat, patroli, pemantauan titik panas, operasi udara, water bombing, serta operasi modifikasi cuaca (OMC). Namun, kondisi cuaca seperti visibilitas rendah dan kebakaran yang menyebar membatasi efektivitas beberapa operasi.

Di Kalimantan Tengah, BNPB mencatat 6.435 titik panas dengan luas lahan terbakar sekitar 16.010,1 hektare, sementara di Kalimantan Barat terdapat 7 titik api dengan luas 122,9 hektare, dari mana 65,6 hektare berhasil dipadamkan. Di Riau, tercatat 20.015,35 hektare lahan terbakar sejak Januari hingga September 2026. Di Jambi, terdapat perbedaan laporan antara 3.048,68 hektare (Detik.com) dan lebih dari 106 hektare (CNN Indonesia). Di Kalimantan Selatan, 36 titik api membakar lebih dari 131 hektare, dengan 96,8 hektare berhasil dipadamkan. Di Sumatera Selatan, lebih dari 531 hektare lahan terbakar dengan 24 titik api, namun kondisi cuaca menghambat pelaksanaan OMC.

Di wilayah Suaka Margasatwa Padang Sugihan, Sumatera Selatan, ancaman karhutla semakin mendekati habitat gajah sumatra. Pemerintah memperkuat pasukan darat, menambah sekat bakar, serta melakukan water bombing dan OMC untuk melindungi 29 ekor gajah (13 jantan dan 16 betina) yang berada di Pusat Konservasi Gajah Jalur 21. Helikopter water bombing berupa tiga helikopter Chinook dari Jepang juga digunakan dalam operasi pemadaman. Kebakaran di area ini mencakup 2.300 hektare yang terbakar dari total 7.349,6 hektar, dengan upaya penanganan melibatkan ribuan personel dari berbagai instansi.

Perbedaan laporan signifikan terdapat pada data luas lahan terbakar di beberapa provinsi, seperti Riau (20.015,35 hektare vs >53 hektare), Kalimantan Tengah (16.010,1 hektare vs >218 hektare), serta Jambi (3.048,68 hektare vs >106 hektare), yang mungkin disebabkan oleh perbedaan periode pemantauan atau metode pelaporan.

Menurut tiap media