Jakarta · Sabtu, 26 September 2026Cari
WargaKonoha

Erupsi Krakatau dan Semeru-Ibu, Pertumbuhan dan Aktivitas Vulkanik di Indonesia

Gunung Anak Krakatau (GAK) kini memasuki fase pertumbuhan setelah kolaps pada Desember 2018 yang menghilangkan sekitar 0,116 kilometer kubik material dan menurunkan puncak dari 300 meter ke 120 meter, peristiwa yang juga memicu tsunami di Selat Sunda. Sejak 2019, proses rekonstruksi berlangsung melalui erupsi Strombolian, lava fountain, dan aliran lava yang membentuk kerucut baru di kawah. Pertumbuhan tidak simetris akibat perbedaan kemiringan lereng kaldera bawah laut dan kepadatan material antara endapan tuf dan lava. Di sisi lain, muncul darilan baru di kawasan GAK yang diisipulasi sebagai 'cucu' Krakatau atau calon gunung api baru, meski dosen Teknologi Geologi ITERA menyatakan belum terbukti secara ilmiah. Darilan ini diduga merupakan tumpukan material erupsi yang longsor dan terendapkan mengikuti arus laut, dengan luas yang dapat bertambah tergantung aktivitas vulkanik mendatang. Diperlukan penelitian lapangan lebih lanjut untuk memastikan strukturnya.

Pada hari yang sama, dua gunung api lain di Indonesia juga aktif erupsi. Gunung Semeru di Jawa Timur bererupsi pukul 06.56 WIB dengan kolom abu mencapai 700 meter, amplitudo seismograf 22 mm, dan durasi 125 detik. Sementara Gunung Ibu di Maluku Utara erupsi pukul 11.48 WIT (09.48 WIB) dengan kolom abu 400 meter, amplitudo 28 mm, dan durasi 66 detik. Kedua erupsi ini terjadi pada waktu dan lokasi berbeda namun pada tanggal yang sama. Masyarakat di sekitar kawasan gunung api dianjurkan untuk mematuhi perintah resmi dari pihak berwenang.

Menurut tiap media