Jakarta · Minggu, 4 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

IMF Setujui Pinjaman Rp33,9 T untuk Bolivia di Tengah Krisis Ekonomi

IMF menyetujui program Extended Fund Facility (EFF) selama 36 bulan untuk Bolivia dengan total pinjaman mencapai SDR 1,369 miliar atau sekitar Rp 33,98 triliun (asumsi kurs Rp 17.888). Pemerintah Bolivia dapat segera mencairkan dana sekitar US$ 214 juta atau Rp 3,82 triliun, sementara pencairan berikutnya dilakukan secara bertahap berdasarkan evaluasi pelaksanaan program. Program ini bertujuan membantu memulihkan stabilitas ekonomi, memperkuat perlindungan sosial, dan menambah cadangan devisa negara. IMF menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang mengurangi utang pemerintah secara bertahap sambil melindungi kelompok rentan. Langkah-langkah yang akan dilakukan termasuk penghapusan bertahap subsidi BBM melalui mekanisme penetapan harga otomatis, pembuatan nilai tukar yang lebih fleksibel, serta penguatan kebijikan moneter dan pengawasan sektor keuangan. Reformasi juga mencakup peningkatan efisiensi pengeluaran, penanganan utang, dan perbaikan tata kelola serta transparansi. Tujuannya adalah menciptakan iklim usaha yang lebih baik, mendorong investasi swasta, dan membuka lapangan kerja. IMF berharap dukungan ini juga dapat menarik pendanaan dari lembaga keuangan internasional lainnya. Nigel Clarke, Wakil Direktur Pelaksana IMF, menyatakan bahwa pemerintah Bolivia telah mengambil langkah signifikan dalam setahun terakhir untuk mengatasi ketidakseimbangan makroekonomi yang berkepanjangan.

Presiden Rodrigo Paz melakukan berbagai langkah reformasi fiskal, termasuk menghapus subsidi diesel sepenuhnya dan mengurangi subsidi bensin secara bertahap. Pemerintah juga berencana merestrukturisasi perusahaan negara yang merugi, meninggalkan rezim nilai tukar tetap setelah 15 tahun, serta mendorong investasi swasta di sektor pertambangan dan hidrokarbon. Meskipun demikian, kebijakan pemangkasan subsidi ini memicu gejolak sosial sehingga pemerintah menetapkan keadaan darurat hingga Desember.

Terdapat perbedaan dalam penyajian angka pinjaman antar media. Kumparan melaporkan pinjaman sebesar USD 1,9 miliar (sekitar Rp 33,9 triliun) dengan bunga 3-3,5%, sementara Detik.com menyebutkan total pinjaman sebesar SDR 1,369 miliar atau sekitar Rp 33,98 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.888. Selain itu, Detik.com menyampaikan bahwa pencairan dana dapat dimulai dengan sekitar US$ 214 juta atau Rp 3,82 triliun, yang tidak disebutkan oleh Kumparan.

Menurut tiap media