Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Iran dan AS Bintangi Konflik Selat Hormuz, Pertukaran Serangan Rudal dan Dendam Militer

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran menegaskan kendali penuh atas Selat Hormuz, menolak klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Washington mengendalikan jalur strategis tersebut. Dalam pernyataannya, Angkatan Laut IRGC menyebut klaim Trump soal pembukaan Selat Hormuz sebagai 'kebohongan belaka', menegaskan bahwa selat tetap ditutup bagi kapal asing tanpa koordinasi dengan otoritas Iran. Penutupan ini dilakukan sebagai respons terhadap serangan AS dan Israel pada akhir Februari 2026, yang sebelumnya pernah diikuti periode pembukaan 60 hari melalui MoU pada Juni, namun kembali retak akibat serangan silang dan tuduhan pelanggaran.

Di sisi lain, IRGC melancarkan serangan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania sebagai respons atas serangan udara AS-Israel di Pulau Larak. IRGC mengklaim berhasil menghancurkan infrastruktur militer AS, termasuk fasilitas pemeliharaan dan lokasi parkir jet. Namun, menurut laporan, sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Yordania dan AS, dengan delapan rudal yang berhasil mencegat. Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah klaim IRGC, menyatakan bahwa serangan udara sebelumnya di Pulau Larak merupakan tindakan presisi terbatas untuk menghilangkan ancaman dari pasukan IRGC yang mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Upaya diplomasi untuk menyelesaikan konflik selat ini belum berhasil. Iran mempertahankan bahwa kapal asing harus mematuhi aturan yang ditetapkannya, sementara AS menekankan kebebasan navigasi. AS juga memberlakukan blokade maritim terhadap pelabuhan Iran, sementara Iran menuntut pencabutan sanksi ekonomi dan penghentian agresi di berbagai front. Ketegangan ini berlanjut tanpa solusi yang ditemukan hingga kini.

Menurut tiap media