Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Jason Arday, mantan profesor Cambridge, meninggal dunia usai tuduhan plagiarisme menjadi sorotan publik

Jason Arday, mantan profesor termuda Cambridge berusia 41 tahun, ditemukan meninggal dunia di Battersea, London Selatan. Kematiannya diperlakukan sebagai kejadian tidak terduga tanpa unsur mencurigakan. Arday sebelumnya sempat menjadi sorotan publik akibat tuduhan plagiarisme yang membuatnya mengundurkan diri dari kampus tersebut. Dalam pernyataannya, ia membantah tuduhan plagiarisme namun mengakui kekhilafan teknis yang dipengaruhi oleh kondisi autisme yang diderapinya. Keluarga menyampaikan kondisi syok berat dan menyoroti tekanan publik yang dialami Arday sebelum kematiannya. Mereka menyebut kampanye informasi yang salah terlalu berat bagi sosok pria lembut yang selalu ingin melihat sisi terbaik dari setiap orang. Arday juga sempat mengungkapkan bahwa kecaman yang diterimanya telah melampaui batas perdebatan akademis, dengan tuduhan dan spekulasi publik yang memberi dampak mendalam baginya dan orang tercintanya. Kepala Wakil Canselor Cambridge dan Menteri Pendidikan Inggris menyampaikan belasungkawa atas kepergiannya. Wafatnya Arday juga memicu kritik terkait evaluasi keselamatan dan perlindungan psikologis bagi akademisi di tengah tekanan media.

Arday sebelum meninggal mengundurkan diri dari Cambridge beberapa hari setelah ditemukan tewas. Ia merupakan profesor kulit hitam termuda Cambridge pada usia 37 tahun pada tahun 2023. Arday juga sempat mengungkapkan bahwa kecaman yang diterimanya telah melampaui batas perdebatan akademis, dengan tuduhan dan spekulasi publik yang memberi dampak mendalam baginya dan orang tercintanya. Kemajuan kematian Arday terjadi pada pekan yang sama dengan peluncuran memoar pribadinya.

CNBC Indonesia menyebutkan bahwa Arday sebelum meninggal mengundurkan diri dari Cambridge beberapa hari setelah ditemukan tewas. Media Indonesia tidak menyebutkan hal ini. Keduanya menyepakati bahwa Arday mengundurkan diri karena tekanan plagiarisme, namun hanya CNBC yang menyebutkan tuduhan plagiarisme pada disertasi doktoral tahun 2015 serta keraguan atas klaim penggalangan dana amal senilai 5,5 juta pound sterling. Media Indonesia tidak menyebutkan keraguan atas klaim penggalangan dana amal tersebut.

Menurut tiap media