Jakarta · Sabtu, 22 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Karhutla Kalimantan: Lonjakan Hotspot hingga 518 Titik dan Jarak Pandang Bandara Terganggu

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih aktif selama tiga hari (17-19 Agustus 2026), menyebabkan kabut asap dan keterbatasan jarak pandang di sejumlah bandara. Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SIPONGI) Kementerian Kehutanan dari satelit NASA-MODIS/Terra-Aqua, jumlah hotspot dinamis selama tiga hari. Pada 17 Agustus terdeteksi 123 titik (93 di Kalimantan Barat, 28 di Kalimantan Tengah, 2 di Kalimantan Selatan). Pada 18 Agustus, jumlah menurun menjadi 109 titik (15 di Kalimantan Barat, 73 di Kalimantan Tengah, 21 di Kalimantan Selatan). Namun, pada 19 Agustus, terjadi lonjakan drastis hingga 518 titik (259 di Kalimantan Barat, 242 di Kalimantan Tengah, 17 di Kalimantan Selatan). Secara kumulatif selama tiga hari, tercatat 750 hotspot berkepercayaan tinggi di ketiga provinsi, dengan Kalimantan Barat sebagai kontributor terbesar (367 titik), diikuti Kalimantan Tengah (343 titik), dan Kalimantan Selatan (40 titik). Lonjakan ini menimbulkan kekhawatirkan mengenai kualitas udara dan dampaknya pada transportasi udara serta kesehatan masyarakat.

Pemerintah telah menindaklanjuti laporan masyarakat mengenai kabut asap dan terbatasnya jarak pandang di berbagai kota seperti Pontianak, Palangka Raya, Banjarmasin, dan Banjarbaru. Pada 19 Agustus, jarak pandang di Bandara Supadio (Pontianak) turun hingga 1,2 km, sementara di Palangka Raya mencapai 3 km, dan di Bandara Syamsudin Noor (Balikpapan) hanya 400 meter. Namun, pada 20 Agustus, kondisi mulai membaik dengan jarak pandang di Bandara Supadio mencapai 4 km dan di Bandara Tjilik Riwut mencapai 6 km. Untuk menangani situasi ini, pemerintah telah menggerakkan sekitar 12.880 personel gabungan, dengan alokasi terbesar di Kalimantan Tengah (10.700 orang). Operasi pemadaman kebakaran juga dilakukan secara udara melalui water bombing, yang dikoordinasikan oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot tidak selalu berkorelasi langsung dengan jumlah kejadian kebakaran atau tingkat keparahan asap, karena satu kejadian bisa terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Penyebaran asap dipengaruhi oleh faktor seperti arah dan kecepatan angin, kelembapan, dan karakteristik lahan. Operasi terpadu pengendalian karhutla diperkuat mengikuti meningkatnya hotspot berkepercayaan tinggi dan laporan masyarakat.

Menurut tiap media