Jakarta · Rabu, 2 September 2026Cari
WargaKonoha

Karhutla dan El Nino Memicu Lonjakan Hotspot serta Kasus ISPA di Indonesia

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan sejak akhir Juli 2026, dengan berpotensi memburuk akibat fenomena El Nino. Menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service (CAMS), emisi kebakaran di sejumlah wilayah meningkat dalam dua pekan terakhir. Musim kebakaran tahun ini diperkirakan lebih sulit karena kondisi positif El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang kuat, yang bertambah dengan kemungkinan Indian Ocean Dipole (IOD) positif. CAMS mencatat konsistensi pola kebakaran ini dengan tahun-tahun El Nino sebelumnya seperti 1997, 2005/2006, 2015, 2019, dan 2023.

Data Sipongi Kementerian Kehutanan per 1 September menunjukkan hotspot di Kalimantan Barat melonjak dari 273 menjadi 859 titik, sementara Kalimantan Tengah naik dari 253 menjadi 623 titik. Provinsi lain seperti Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan juga mengalami peningkatan, meskipun Riau tetap nol dan Jambi naik dari nol ke empat titik. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto akan menurun ke Pontianak untuk memperkuat koordinasi dengan gubernur, kapolda, dan pangdam guna melakukan evaluasi dan perencanaan mitigasi. Greenpeace Indonesia mendesak penanganan korban asap karhutla gambut dinyatakan sebagai tanggap darurat bencana nasional. Asap karhutla telah menyelimuti hampir seluruh Kalimantan selama 19-28 hari dan mempengaruhi 23,4 juta warga, sementara di Sumatra tiga provinsi terdampak selama rata-rata 10 hari dengan 24,1 juta penduduk terkena dampaknya.

Kebakaran hutan juga mulai berdampak signifikan pada kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 50.891 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama Juli hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, 12.600 kasus terjadi pada anak di bawah lima tahun, sementara 38.291 kasus pada kelompok usia di atas lima tahun. Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, menjelaskan bahwa peningkatan kasus ISPA tidak hanya terjadi di wilayah dengan titik api karhutla, tetapi juga di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan. Dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025, data surveilans menunjukkan tren peningkatan kasus ISPA di hampir seluruh provinsi pada 2026. Sebanyak 63 kabupaten dan kota tercatat mengalami peningkatan kasus ISPA pada tahun ini.

Menurut tiap media