Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kekerasan dan Ekspansi Israel di Tepi Barat dan Gaza Dapat Sorotan Internasional

Israel melanjutkan ekspansi permukiman di kawasan E1 Tepi Barat dengan mengumumkan tender untuk 1.234 unit rumah, sekaligus menteri keamanannya menyampaikan komentar kontroversial yang menyerukan pembunuhan warga Gaza. Komentar Menteri Keamasan Itamar Ben-Gvir yang menyarankan pembunuhan 30 hingga 40 warga Gaza setiap malam mendapat kecaman keras dari berbagai negara Barat, termasuk Jerman yang menyatakan sanksi kemungkinan, sementara beberapa negara seperti Australia, Prancis, Inggris, dan Kanada telah memberlakukan larangan masuk terhadapnya. Pemerintah Israel juga menyetujui dana sekitar 50 juta shekel (16 juta USD) untuk pos-pos permukiman ilegal dan perlengkapan operasional pemukim, yang menurut Human Rights Watch memiliki tujuan bersama dengan pemerintah untuk menguasai lahan dan meminimalkan populasi Palestina.

Sejak Januari 2023, serangan pihak Israel di Tepi Barat telah menyebabkan pengungsian penuh atau parsial 107 komunitas Palestina, dengan rata-rata 6,6 serangan per hari pada 2023. Data OCHA mencatat 22 warga Palestina tewas di Tepi Barat antara Januari dan Agustus 2026, dengan 12 tewas akibat serangan pemukim, 7 oleh pasukan Israel, dan 3 dalam insiden yang belum jelas pelakunya. Operasi penangkapan massal juga dilakukan, termasuk penangkapan 13 warga Palestina, termasuk seorang anak, dalam serangkaian penggerebekan yang melibatkan pembakaran properti, pohon zaitun, dan lahan pertanian.

Di Gaza, 94% dari 2,1 juta penduduk membutuhkan tempat tinggal dan perlengkapan rumah tangga dasar akibat penjajahan dan blokade Israel. Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese menegaskan bahwa pendudukan Israel harus diakhiri, merujuk pada pendapat ICJ tahun 2024. ICJ juga memutuskan bahwa pendudukan Israel melanggar hukum internasional. Sejak gencatan senjata, Israel telah menewaskan lebih dari 1.200 orang di Gaza, termasuk 300 anak-anak, menurut laporan terbaru.

Menurut tiap media