Jakarta · Senin, 24 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kemesraan Prabowo-Jokowi dan Strategi Politik PDIP Menjelang Pemilu 2029

Beberapa media meliput kemesraan Prabowo Subianto, Joko Widodo (Jokowi), dan Gibran Rakabuming Raka dalam satu frame pada HUT ke-81 RI. Pengamat politik Citra Institute, Efriza, menilai kemesraan ketiganya berpotensi memengaruhi kalkulasi politik PDI Perjuangan (PDIP) menjelang Pemilu 2029. Menurutnya, visualisasi keakraban tersebut memperkuat persepsi hubungan yang masih solid, sekaligus menaikkan tensi bagi PDIP. Namun, PDIP diperkirakan tidak langsung membentuk poros tandingan terhadap pemerintahan Prabowo, melainkan tetap bertindak sebagai mitra kritis sambil memperkuat konsolidasi internal dan basis elektoral.

Efriza menjelaskan bahwa poros alternatif PDIP akan dibangun melalui penguatan basis pemilih, konsolidasi internal, dan penyiapan figur-figur potensial. Salah satu nama yang dinilai rasional untuk dipertimbangkan adalah Pramono Anung, mengingat kinerjanya sebagai Gubernur DKI Jakarta. PDIP juga tidak menutup kemungkinan menggandeng figur eksternal dengan daya elektoral kuat.

Di sisi lain, Warta Ekonomi melaporkan tiga pilihan strategis yang dapat diambil Jokowi untuk menyelamatkan Gibran di Pilpres 2029: A) Gibran menjadi cawapres Prabowo, B) Gibran maju sendiri sebagai capres, atau C) Gibran tetap menjadi cawapres dengan capres baru yang memiliki elektabilitas tinggi. Dedi Mulyadi dikabarkan unggul dalam survei SMRC dengan 35% dibandingkan Prabowo yang hanya mencapai 14,5%. Dalam head-to-head, Dedi unggul 59% versus 28,3%, dan kesukaan publik terhadapnya mencapai 88,3% dibandingkan 68,1% untuk Prabowo.

Menurut tiap media