Jakarta · Jumat, 18 September 2026Cari
WargaKonoha

PBB: AS dan Iran Diduga Kuat Lakoni Kejahatan Perang di Februari

Para ahli Hak Asasi Manusia PBB menemukan dasar kuat bahwa Amerika Serikat bertanggung jawab atas dua serangan militer di Iran pada Februari yang dikategorikan sebagai kejahatan perang. Serangan pertama terjadi pada 28 Februari di Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh di Minab, yang dikategorikan sebagai serangan tanpa membedakan sasaran. Media menyatakan serangan ini tanpa pandang bulu menyebabkan korban sipil dan kerusakan objek sipil. Serangan kedua menargetkan kompleks olahraga dan permukiman di Lamerd. Media Indonesia melaporkan serangan pertama menewaskan 156 orang termasuk 120 anak-anak, sementara SINDOnews tidak menyebutkan jumlah korban. Media Indonesia menyebutkan rudal yang digunakan hanya dimiliki oleh AS, sementara SINDOnews menyebutkan serangan rudal Tomahawk dan butir tungsten. Media Indonesia melaporkan serangan kedua menyebabkan 21 korban jiwa, sementara SINDOnews tidak menyebutkan jumlah korban. Meskipun militer AS membantah keterlibatan, tim PBB menemukan bukti kuat keterlibatan AS berdasarkan jenis rudal yang digunakan.

Laporan PBB juga mengungkapkan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan otoritas Iran selama penindakan keras terhadap protes massal dari Desember 2025 hingga Januari 2026. Akibatnya, lebih dari 3.000 hingga 7.000 warga sipil dilaporkan tewas, sebagian besar adalah para pengunjuk rasa. PBB mendokumentasikan penggunaan senjata api mematikan, penembakan dari atap gedung, penyerangan terhadap fasilitas kesehatan, hingga penangkapan massal yang berujung pada penyiksaan dan eksekusi mati setidaknya 29 demonstran. Tim ahli menyimpulkan bahwa tindakan ini memenuhi kriteria kejahatan terhadap kemanusiaan secara sistematis.

PBB juga memaparkan dinamika konflik terkait, termasuk AS yang menolak visa Presiden Palestina Mahmoud Abbas untuk Sidang Umum PBB, sementara Sekjen PBB Antonio Guterres mendesak penghentian aneksasi di Tepi Barat. Konflik ini turut memicu kelangkaan pupuk global dan kenaikan harga energi akibat gangguan pelayaran di Selat Hormuz. The Fed juga menaikkan suku bunga acuan untuk meredam inflasi yang dipengaruhi oleh ketegangan AS-Iran.

Menurut tiap media