Jakarta · Selasa, 6 Oktober 2026Cari
WargaKonoha

Pengembangan Infrastruktur Data Center AI dan Dampak Lingkungannya

Google sedang menguji data center AI di luar angkasa melalui Project Suncatcher dengan meluncurkan prototipe satelit TPU pada 1 Oktober 2026. Proyek ini bertujuan memanfaatkan energi surya orbit rendah Bumi yang 8 kali lebih besar dari permukaan Bumi. Untuk skala besar, Google memperkirakan kebutuhan 81 satelit dan 1.800 penerbangan Starship SpaceX dalam 10 tahun guna mengirim 370.000 ton muatan dengan biaya USD 200 per kilogram pada 2035.

Di sisi lain, pembangunan data center di Bumi menghadapi kendala regulasi dan lingkungan. Di Purwakarta, Gubernur Dedi Mulyadi menghentikan sementara proyek BDX senilai Rp3,5 triliun karena belum memiliki AMDAL dan PBG. Sementara itu, Google dikecam karena menebang lebih dari 300 hektare hutan di Finlandia untuk investasi USD 15 miliar. Di Amerika Serikat, pembangunan pusat data Meta dan Amazon memicu penolakan warga akibat polusi udara, kenaikan listrik, serta krisis air bersih.

Kebutuhan air menjadi isu krusial; satu sesi AI 30 menit diperkirakan menghabiskan 600 ml air, sementara Google menyebut lima tetes air per kueri. Konsumsi air data center AS mencapai 731 miliar hingga 1,125 triliun liter per tahun. Selain volume, penggunaan biosida seperti klorin dioksida dan bromin dalam sistem pendingin mengancam pencemaran sumber air.

Menurut tiap media