Jakarta · Jumat, 28 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ratko Mladic, mantan komandan militer Serbia Bosnia, meninggal di Den Haag

Ratko Mladic, mantan panglima Angkaran Bersenjata Serbia Bosnia yang divonis bersalah atas genosida dan kejahatan perang terkait pembantaian Srebrenica pada 1995, meninggal dunia di rumah sakit di Den Haag, Belanda, pada Kamis (27/8). Mladic, yang juga dikenal sebagai 'Jagal Bosnia', bertanggung jawab atas pembunuhan sekitar 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosnia yang mencari perlindungan di zona aman yang dilindungi PBB. Ia ditangkap pada Mei 2011 setelah 16 tahun mengelak penangkapan dan divonis hukuman penjara seumur hidup pada 2017, yang kemudian diperkuat pada 2021. Mladic mengalami beberapa kali stroke dalam beberapa bulan terakhir sebelum kematiannya. Keluarganya dan sejumlah pejabat Serbia pernah memohon pembebasan karena kondisi kesehatannya, namun permintaan tersebut ditolak pengadilan. Perwakilan korban Srebrenica menyatakan bahwa kematian Mladic tidak akan menghapus kejahatannya. Sekretaris Jenderal PBB menyampaikan belasungkawa kepada para korban dan keluarga mereka. Reaksi terhadap kematian Mladic bervariasi; di Bosnia, sebagian warga merayakan, sementara di Republika Srpska, Mladic dihatur sebagai pahlawan. Pemerintah Rusia mengkritik pengadilan yang menjatuhkan hukuman terhadap Mladic, menilainya tidak adil secara politis. Pemerintah Serbia sempat mengajukan agar Mladic berobat di luar penjara karena kondisi kesehatannya yang disebut serius, namun Mekanisme Residual Internasional PBB menyatakan bahwa perawatan medis yang diterimanya sudah memadai. Mladic dikenal sebagai salah satu komandan militer paling kejam dalam konflik Yugoslavia. Pengadilan internasional memvonisnya bersalah atas kejahatan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang selama Perang Bosnia-Herzegovina (1992-1995). Noda tertinggi dalam rekam jejaknya adalah Pembantaian Srebrenica pada Juli 1995, ketika pasukannya menyerbu wilayah yang ditetapkan sebagai 'zona aman' oleh PBB dan mengeksekusi lebih dari 8.000 pria dan anak laki-laki Muslim Bosniak dalam beberapa hari. Selain pembantaian Srebrenica, Mladic juga divonis karena kampanye pembersihan etnis yang lebih luas untuk mengusir warga Muslim dan Bosnia dari wilayah tertentu guna membentuk 'Serbia Raya'. Hingga kini, tragedi Srebrenica tetap menjadi simbol kejahanan terberat di Eropa pasca-Perang Dunia II. Jenazah ribuan korban telah ditemukan di kuburan massal dan diidentifikasi selama bertahun-tahun, meskipun sekitar 1.000 korban lainnya masih dalam pencarian. Mladic meninggal pada usia 84 tahun.

Menurut tiap media