Jakarta · Rabu, 2 September 2026Cari
WargaKonoha

Ratusan Santri Manbaul Hikam Diduga Keracunan MBG, Jumlah Korban dan Rumah Sakit Diferensial

Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam di Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi Makan Bergizi Gratis (MBG) pada Selasa, 1 September 2026. Jumlah santri yang terdampat dilaporkan berbeda antar media: JPNN dan Detik menyebutkan 293 santri, sementara CNN Indonesia dan CNN Indonesia lagi melaporkan 431 santri. Para korban dirawat di delapan rumah sakit, termasuk RSUD Notopuro, RSI Siti Hajar, RS Pusura, RS Delta Surya, RS Asisyiyah Fatimah, dan RS Porong. Gejala yang dilaporkan meliputi mual, lemas, pusing, dan diare yang punah. Delapan santri masih dirawat intensif menurut JPNN, sementara menurut Detik, puluhan santri dilarikan ke rumah sakit dengan bantuan ambulans.

Bupati Sidoarjo Subandi dan Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak secara konsisten membantah kabar adanya korban meninggal dunia. Subandi menyatakan bahwa sebagian pasien sudah membaik, sementara Emil menekankan bahwa keluhan serupa juga dilaporkan oleh siswa dari 19 lembaga pendidikan lain di Kecamatan Tanggulangin yang sama, termasuk SMA, SMP, SD, dan TK. Kedua otoritas ini menegaskan bahwa keracunan diduga disebabkan oleh makanan yang diolah oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, bukan oleh ponpes itu sendiri.

SPPG Kalitengah telah di-suspend sementara oleh Badan Gizi Nasional (BGN) pusat. Dapur tersebut biasanya memasok sekitar 2.800 porsi per hari, dengan sekitar 1.000 porsi untuk santri Ponpes Manbaul Hikam. Sampel makanan telah diambil oleh Dinas Kesehatan Sidoarjo dan kepolisian untuk diuji di laboratorium, dan hasilnya diperkirakan akan tersedia dalam satu minggu ke depan. Menu yang dikonsumsi meliputi nasi putih, orak-arik telur, tempe bumbu bali, sayur tumis buncis baby corn, dan buah apel. Seorang santri berusia 15 tahun melaporkan bahwa sayur terasa asam sebelum mengalami gejala mual, lemas, dan pusing. Investigasi masih berlangsung untuk mengidentifikasi sumber makanan yang menyebabkan keracunan massal ini.

Menurut tiap media