Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

Rokok Ilegal Tekan Penjualan dan Margin Gudang Garam di Semester I 2026

PT Gudang Garam Tbk mencatat penurunan pendapatan penjualan sebesar Rp3,19 triliun secara year on year pada semester I 2026, turun dari Rp44,36 triliun menjadi Rp41,17 triliun. Penurunan ini sejalan dengan penurunan volume produksi rokok sebesar 3,2 miliar batang, dari 23,7 miliar batang pada semester I 2025 menjadi 20,5 miliar batang pada periode yang sama tahun 2026. Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam Heru Budiman menyampaikan bahwa cost of revenue juga mengalami penurunan sekitar 13,3 persen, sejalan dengan menurunnya volume penjualan. Menurut Heru, maraknya peredaran rokok ilegal menjadi salah satu faktor utama yang memicu penurunan kinerja perseroan dalam setengah tahun pertama 2026.

Gudang Garam kesulitan menaikkan harga jual rokok karena persaingan dengan produsen rokok ilegal yang tidak membayar cukai. Direktur Heru Budiman menjelaskan, satu bungkus rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) isi 12 batang dijual Rp 26.000, namun Rp 19.000 harus disetor ke negara sebagai cukai, sehingga Gudang Garam hanya menerima Rp 7.000 per bungkus. Sebaliknya, produsen ilegal menjual rokoknya Rp 12.000-Rp 15.000 per bungkus tanpa membayar cukai, sehingga seluruh pendapatan masuk ke kantong mereka. Kesenjangan ini membuat Gudang Garam tidak bisa menyaingi harga rokok ilegal. Data perusahaan menunjukkan, cukai, PPN, dan pajak untuk satu kemasan SKM Golongan I mencapai Rp 19.071, jauh lebih tinggi dibandingkan Sigaret Kretek Tangan (SKT) yang hanya dikenakan pajak Rp 6.837.

Akibat tekanan margin, Gudang Garam menaikkan harga jual secara bertahap sejak paruh kedua 2025, meskipun volume penjualan anjlok 13,6% secara tahunan pada semester I 2026. Pemerintah telah membekukan tarif cukai hasil tembakau (CHT) sepanjang 2026 untuk pertama kalinya, namun kebijakan ini belum cukup mengenduraskan pasar rokok ilegal. Akibatnya, pangsa pasar SKT melonjak dari 27,1% pada 2023 menjadi 33,4% pada semester I 2026, sementara pangsa SKM terus tergerus.

Menurut tiap media