Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Spanyol dan Maroko Konflikkan Bukti Dalangi Krisis Migran Ceuta

Ribuan warga Spanyol turun ke jalan pada 3 September 2026 untuk memprotes krisis migrasi di Ceuta, wilayah Spanyol di pesisah Afrika Utara. Sekitar 50.000 orang berkumpul di Madrid, sementara warga Ceuta menggelar aksi dengan membawa bendera dan meneriakkan seruan anti-migran. Aksi ini terjadi sebulan setelah lebih dari 70.000 migran dan pencari suaka menyeberang dari Maroko ke Ceuta pada 30-31 Juli 2026, dalam gelombang kedatangan yang menewaskan sedikitnya 80 orang. Sebagian besar pendatang kemudian kembali ke Afrika, tetapi ribuan lainnya masih berada di Ceuta, termasuk sekitar 5.000 orang yang diperkirakan oleh pemerintah, dengan 1.200 di antaranya adalah anak di bawah umur.

Pemerintah Spanyol telah menanggapi krisis ini dengan memperluas hunian darurat dan mengalokasikan bantuan sebesar 309 juta euro (sekitar Rp5,47 triliun) untuk Ceuta. Namun, kebijakan ini dinilai belum cukup untuk menangani kebutuhan yang terus meningkat. Situasi semakin tegang dengan berbagai insiden kekerasan, termasuk perkelahian, pelemparan batu ke patroli militer, dan laporan kekerasan seksual. Warga setempat melaporkan kesulitan untuk keluar rumah akibat ketidaknyamanan dan ketegangan yang tinggi di wilayah tersebut.

Di tengah ketegangan ini, Perdana Menteri Pedro Sanchez menegaskan tidak ada bukti kuat bahwa Maroko mendalangi gelombang migran ke Ceuta pada Juli lalu. Laporan kepolisian Spanyol menyebutkan adanya sikap "pembiaran total" dari polisi Maroko di perbatasan, sehingga mempermudah lonjakan migran yang mencapai lebih dari 70.000 orang pada 30 dan 31 Juli. Insiden ini menewaskan puluhan orang dan memicu perselisihan di Uni Eropa. Pihak Maroko membantah dan menyalahkan eksploitasi di media sosial serta penyebaran informasi menyesatkan.

Menurut tiap media