Jakarta · Minggu, 20 September 2026Cari
WargaKonoha

Alasan Kenapa Handphone yang Tethering Nyala Jangan Disimpan Dalam Tas

Dua unit handphone meledak dan mengeluarkan asap di dalam KRL yang berhenti di Stasiun Rawa Buntu, Tangerang Selatan, pada Kamis (17/9) lalu. Insiden ini menjadi sorotan utama mengenai risiko penggunaan handphone untuk tethering yang disimpan dalam tas. Menurut pakar keamanan siber Vaksincom, Alfons Tanujaya, handphone yang digunakan untuk tethering dapat mengalami thermal runaway akibat panas baterai yang tidak tersalurkan dengan baik. Thermal runaway terjadi ketika panas yang dihasilkan sel baterai lithium-ion jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan sel untuk membuang panas tersebut, yang dapat menyebabkan suhu sangat tinggi, gas, asap, hingga api.

Alfons menjelaskan bahwa penggunaan handphone secara terus-menerus untuk tethering, ditambah dengan disimpan di dalam tas yang memiliki sirkulasi udara terbatas, dapat membuat suhu perangkat semakin tinggi hingga mengalami thermal runaway. Beban kerja yang terus-menerus dari tethering membuat handphone menghasilkan panas, dan ketika disimpan dalam tas, panas tersebut kesulitan untuk dilepaskan ke lingkungan. Kondisi ini semakin berisiko jika handphone disimpan berdekatan dengan perangkat lain yang juga sedang bekerja dan menghasilkan panas.

Selain itu, Alfons menduga bahwa penggunaan handphone untuk tethering sambil diisi daya, terutama dengan power bank, dapat meningkatkan risiko. Jika handphone dan power bank disimpan bersama di dalam tas tertutup, panas dari kedua perangkat dapat terakumulasi. Reaksi kimia pada baterai dapat terus menghasilkan panas dan mendukung proses pembakaran, sehingga sekadar menghilangkan oksigen dari lingkungan belum tentu menghentikan proses thermal runaway. Oleh karena itu, pengguna perlu memperhatikan kondisi perangkat ketika terasa sangat panas, terutama saat digunakan untuk tethering atau sedang diisi daya.

Berita terkait