Data Center AI di Luar Angkasa Dikritik, Ilmuwan Khawatir Dampaknya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gagasan membangun data center kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa mulai mendapat kritik dari lebih dari 100 ilmuwan, pakar antariksa, dan organisasi lingkungan. Mereka meminta regulator AS melakukan kajian dampak lingkungan sebelum proyek tersebut dilanjutkan. Ide ini muncul seiring meningkatnya kebutuhan energi untuk komputasi AI, yang diproyeksikan membutuhkan pasokan listrik sangat besar. Beberapa perusahaan antariksa, termasuk SpaceX, mengusulkan data center di orbit yang ditenagai panel surya untuk mengurangi beban pada jaringan listrik di Bumi. Namun, para ilmuwan khawatir rencana meluncurkan satelit hingga lebih dari satu juta unit dapat meningkatkan risiko tabrakan dan pencemaran sampah antariksa, yang berpotensi mengganggu satelit lain. Tantangan teknis lainnya meliputi pembuangan panas yang sulit di ruang hampa, radiasi kosmik, dan kesulitan perbaikan. Sementara pendukung berpendapat proyek ini dapat mengurangi tekanan lingkungan di Bumi, para kritikus menekankan pentingnya memahami seluruh dampaknya sebelum dilaksanakan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNBC Indonesia · 6 Agustus 2026 pukul 14.45
Geger Data Center Raksasa Telan Anggaran Sampai Rp 18.000 Triliun
CNBC Indonesia · 4 Agustus 2026 pukul 10.20
Satelit Lampung-1 Besok Meluncur ke Orbit Terbang dari China
Berita terkait
The Sovereignty We’re Renting
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 07.17
Jepang Mau Bikin Pusat Data AI Terbesar di Prefektur Akita, Dilirik Investor UEA
kumparan · 16 Agustus 2026 pukul 04.00
Sinergi Danantara, NeutraDC Gandeng PLN Kembangkan Hyperscale Data Center
Warta Ekonomi · 14 Agustus 2026 pukul 17.27
NeutraDC Gaet PLN Ekspansi Kapasitas Data Center di Cikarang hingga 200 MW
Detik.com · 14 Agustus 2026 pukul 13.48