FOTO: Dampak Panas Ekstrem Terhadap Pola Kerja Petani Jepang
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gelombang panas ekstrem yang semakin sering terjadi di Jepang memaksa para petani untuk menyesuaikan pola kerja mereka. Mereka kini beralih dari aktivitas di siang hari ke malam hari untuk menghindari paparan suhu tinggi yang berbahaya bagi kesehatan dan produktivitas. Perubahan ini dilakukan sebagai upaya adaptasi terhadap kondisi iklim yang tidak menentu. Suhu maksimum di banyak wilayah pertanian Jepang telah mencapai 35 derajat Celsius atau lebih, menjadikan kondisi kerja di luar ruangan sangat sulit. Para petani juga mulai menggunakan teknik baru seperti penanaman tanaman yang tahan terhadap panas dan irigasi yang lebih efisien untuk mengurangi dampak langsung dari suhu tinggi. Pemerintah setempat juga memberikan dukungan melalui program bantuan air dan panduan teknis agar petani dapat tetap menjaga hasil panen meski di tengah kondisi cuaca ekstrem. Penelitian menunjukkan bahwa frekuensi dan intensitas gelombang panas di Jepang telah meningkat seiring perubahan iklim global. Data meteorologi menunjukkan bahwa rata-rata suhu udara di Jepang selama tiga bulan terakhir telah melebihi rekor sebelumnya. Para ahli iklim memperingatkan bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut, sehingga petani perlu terus beradaptasi dengan cepat. Beberapa daerah bahkan mencatat suhu malam yang tidak turun secara signifikan, menambah beban panas yang berkelanjutan bagi para pekerja pertanian. Hal ini juga memengaruhi siklus tanaman dan waktu panen, sehingga petani harus merencanakan jadwal tanam yang lebih fleksibel.
Bagikan
Berita terkait
Petani Didorong Genjot Produksi, Pemerintah Harus Pastikan Pasar Tersedia
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 14.35
Hari Jadi ke-81 Jateng, Ahmad Luthfi Apresiasi Peran Petani, Buruh, hingga UMKM
Media Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 14.19
Di Forum BRICS, Jumhur Sentil Negara Maju yang Mundur dari Tanggung Jawab Iklim
Warta Ekonomi · 19 Agustus 2026 pukul 13.50
Menteri Jumhur Desak Negara Besar Ikut Tanggung Jawab Soal Lingkungan
CNBC Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 13.05