Kisah Nabi Musa Belah Laut Merah Terungkap Lewat Kajian Sains
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kisah Nabi Musa membelah Laut Merah, yang diabadikan dalam kitab suci, kini juga dikupas dari sudut pandang ilmiah oleh para oseanografer dan ilmuwan. Berdasarkan pemodelan komputer, hembusan angin badai sekaliber 100 km/jam dapat membuka jalur selebar 5 kilometer di perairan dangkal. Setelah angin mereda, air laut kembali tumbuh gelombangnya seperti tsunami, menyapu pasukan Firaun yang mengejar. Carl Drews dari National Center for Atmospheric Research menjelaskan fenomena ini sebagai perpaduan kekuatan alam dan ketepatan waktu.
Riset modern mengarah pada Teluk Suez sebagai lokasi yang lebih masuk akal, bukan Teluk Aqaba yang dalamnya mencapai 1.850 meter. Teluk Suez memiliki kedalaman rata-rata hanya 20 hingga 30 meter dengan dasar yang datar, mirip kondisi saat Napoleon menyeberang di sana pada 1789. Dr. Bruce Parker dari NOAA berpendapat Nabi Musa memanfaatkan pengetahuan mendalam tentang siklus pasang surut, sementara pasukan Firaun yang terbiasa dengan Sungai Nil tidak menyadari bahaya pasang surut.
Profesor Nathan Paldor dari Hebrew University of Jerusalem memperkuat teori ini dengan perhitungan matematis: angin barat laut berkecepatan 65-70 km/jam yang bertiup semalaman dapat menurunkan permukaan air laut hingga 3 meter, membuka jalur bagi manusia melewati dasar laut. Meskipun penjelasan sains terdengar rasional, Carl Drews menegaskan ilmu dan keimanan spiritual tidak saling mengecualikan.
Bagikan
Berita terkait
Harvest Moon Bukan Pertanda Gempa atau Erupsi, tapi Waspada Potensi Rob
SINDOnews · 27 September 2026 pukul 08.28
Trump Tak Bantu Saudi, Houthi Janji Tak Akan Serang Kapal AS
SINDOnews · 22 September 2026 pukul 12.15
Houthi Warning Negara-negara Lain: Jangan Gabung Arab Saudi dalam Perang Saudara Yaman!
SINDOnews · 21 September 2026 pukul 09.41
Balas Serangan Houthi, Saudi Lancarkan 28 Serangan ke Yaman dalam 24 Jam
Detik.com · 21 September 2026 pukul 01.48