Letusan Krakatau 1883 Bikin Langit Eropa dan Amerika Berubah Warna
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Letusan Krakatau pada 27 Agustus 1883 menjadi vulkanik paling dahsyat, menghancurkan sebagian pulau dan memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 36.000 orang di pesisir Jawa dan Sumatra. Ledakan keras terdengar hingga ribuan kilometer dan gelombang tekanan atmosfer mengelilingi Bumi beberapa kali. Partikel dan gas vulkanik menyebar ke atmosfer, menyebabkan perubahan warna langit di Eropa dan Amerika pada bulan-bulan berikutnya. Matahari terbenam tampak merah, ungu, bahkan hijau, sementara Bulan terlihat biru kebiruan. Fenomena ini dipengaruhi aerosol sulfat vulkanik yang memantulkan radiasi Matahari, menurunkan suhu global sekitar 0,5-0,6 derajat Celsius. Peristiwa ini juga dikaitkan dengan lukisan The Scream karya Edvard Munch, meskipun teori itu masih diperdebatkan.
Bagikan
Berita terkait
Anak Krakatau Erupsi, BNPB Minta Warga Banten-Lampung Tak Panik Isu Tsunami
Liputan6.com · 5 September 2026 pukul 09.58
Dentuman dan Getaran di Lampung hingga Jabar Diduga Terkait Aktivitas Gunung Anak Krakatau
SINDOnews · 5 September 2026 pukul 09.52
PVMBG: Tubuh Gunung Anak Krakatau Pasca 2018 Belum Bisa Picu Tsunami
CNN Indonesia · 5 September 2026 pukul 09.46
Gunung Anak Krakatau Erupsi, Warga Diminta Jauhi Radius 3 Km
CNN Indonesia · 5 September 2026 pukul 09.45